DI DALAM DOA IBUKU, MASAKAN DISEBUT

Konon kalau bentuk jari jari gemuk itu menandakan si empunya tangan jago masak. Tangan itu dimiliki oleh ibuku, dan memang dia pintar memasak. Jari jari ibuku gendut gendut. Seperti pisang susu. Telapak tangannya lembut dan berwarna merah jambu. Tangan itu halus, lembut dan kenyal. Tidak ada guratan keras akibat kapalan. Padahal  tangan dan jari jari itu telah puluhan tahun berjibaku dalam bersentuhan dengan alat alat dapur dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Tetapi hingga usianya 77 tahun ini, tangan itu tetap lembut, kenyal dan bersemu merah jambu. Iseng aku suka menempelkan kedua tangannya ke pipiku. Persis yang kulakukan dulu saat masih kanak kanak.

Tanganku dan tangan ibuku

Dan ternyata aku pun mewarisi jari jari gendutnya. Dulu waktu kecil aku sering mengutuki tangan tangan itu. Tangan yang kelihatan tidak cantik. Tidak seperti tangan boneka barbie punya temanku. Tetapi setelah beranjak umur, aku pun mulai berdamai dengan jari jari gendutku. Tetapi telapak tangan dan jariku tidak sehalus punya ibuku. Tanganku mudah kasar jika terkena langsung sabun cuci. Jariku sering kapalan saat sekolah akibat memegang pensil. Aku harus membubuhkan banyak banyak lotion biar telapak tangan tetap halus dan tidak kering.

Dan ternyata akupun mewarisi bakat ibuku dalam urusan memasak. Aku senang nguplek di dapur. Menjelang akhir pekan aku browsing internet untuk mencoba resep-resep baru. Tapi harus diakui kemampuan memasakku tetap jauh dari ibuku. Sampai usia sekarang, lidah ibuku tetap sensitif. Indra pengecapnya mahir menilai ketika sebuah masakan kurang garam atau gula biar kurang sejumputpun. Ibuku adalah mentor juga tukang koreksi rasa untuk semua masakanku.

Makanan yang diolah ibuku adalah penyambung hidup kami. Ya ibuku sudah jualan rupa rupa makanan sejak aku masih kecil. Yang terkenal adalah gethuk lindri. Sehingga terkenal dengan julukan Mbak Titik Gethuk. Setiap pagi aku akan otomatis membuka mata bukan karena dibangunkan. Tetapi karena suhu rumah sudah menghangat pertanda dapur sudah mengebul. Juga aroma vanilla dan lelehan gula aren bercampur nangka yang menguar, siap diguyurkan pada adonan singkong.

Sejak kelas 3 SD aku sudah terbiasa membawa dagangan gethuk untuk dititip di kantin koperasi sekolah. Dengan tas tercangklok di bahu kanan, tangan kiriku sibuk membawa baskom berisi dagangan. Kadang jika pesanan banyak, beban di tanganku semakin berat. Jarak sekolah sekitar 2 km dari rumah itu adalah langkah panjang buat kaki kaki kecilku. Kadang aku harus berhenti sesaat dan meletakann baskon di tembok orang untuk sekedar meredakan lelah.

Sepanjang ingatan, dagangan ibuku selalu laris. Bahkan kadang permintaan berlebih tetapi persediaan tidak ada. Tetapi ibuku bukan tipe yang ngoyo, baginya rejeki sudah dijatah setiap hari, dan tubuh juga tetap perlu istirahat. Ada kalanya ada dagangan yang tidak laku karena mendadak kantin sekolah tutup lebih awal karena sekolah dipulangkan cepat, tetapi ketika di bawa ke rumah, dalam perjalanan kebeli orang. Aku justru yang teringat pernah membawa utuh dagangan gethuk. Gara gara daganganku diborong semua sama seorang guru di SD, sehingga orang-orang yang mau beli kecele. Tetapi siangnya menjelang pulang sekolah, gethuk yang sudah dibeli itu dikembalikan utuh. Alasannya dia tidak tahu kalau harga gethuknya sudah naik. Ya waktu itu karena barang barang sudah naik, maka gethuk pun naik harga 5 rupiah. Entah petugas kantin lupa memberitahukan atau bagaiaman, yang jelas aku pulang dengan baskom penuh. Aku menangis sambil bersumpah dalam hati jangan sampai besar nanti memperlakukan orang seperti itu.

Ibuku tidak marah. Gethuk yang masih utuh itu diiris iris kemudian dikeringkan. Dan jadilah keripik gethuk. Ibuku kemudian bercerita bahwa awalnya berdagang gethuk dan mendapat gelar legenda ‘Mbak Titik Gethuk’ itu ketika suatu hari di jalan ketemu dengan bapak tua yang memikul singkong. Si bapak itu minta singkongnya dibeli. Karena pesanannya ditolak sama pembelinya. Kadung sudah jauh jauh dari desa ke kota, dia kebingungan akan dibawa ke mana singkong sebanyak itu. Akhinya ibuku beli semua. Dan giliran dia bingung mau diapain singkong-singkong itu. Sebagian ditawarkan tetangga untuk dijual. Sisanya dia coba coba dibuat gethuk. Jadilah penyambung hidup kami.

Ibuku selalu berpesan kepadaku, bersikap hati hati terhadap makanan yang akan dijual. Ibuku orang yang sangat detail dan teliti. Belilah bahan bahan yang bagus. Jaga kebersihannya. Bumbu bumbu dibuat mantap. Dan sederatan pepatah petitih. Bahkan sebelum memulai terjun di dapur, ibuku akan merapal doa dulu. Ini juga menjadi sebentuk kenangan masa kecil. Dulu ibuku pernah diberi petuah, kalau mau dagangan laris itu rajin sholawatan. Jadi ketika membuat gethuk, setiap ayunan gilingan itu satu sholawat. Setiap lembar demi lembar daun yang disobek dan dilap itu satu sholawatan. Demikian seterusnya.

Ada doa ibuku dalam setiap masakan. Termasuk ketika aku sekarang suka membuka PO untuk makanan Kokisedap. Ritual seperti itu tidak pernah dilewatkan ibu. Beliau mengajari bahwa memasak juga bagian dari ibadah. Proses panjang mempersiapkan bahan makanan hingga sampai ke tangan pembeli adalah proses yang harus dilalui dengan kehati hatian. Ada untaian doa. Dan di bagian akhir ketika proses memasak selesai, adalah proses membersihkan alat alat masak dapur. Ibuku berpesan selesai membersihkan, diletakkan ditempat semula dan mengucapkan terima kasih kepada semua alat dapur yang telah membantu. Ini salah satu bentuk rasa syukur. Mungkin ini terdengar absurd bagi orang modern, tetapi kurasa ini nasihat yang memang layak diikuti. Semoga aku bisa mengikuti jejak ibuku.

PS: Intip yuk Instagram @kokisedap tempat berbagi cerita masakan.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *