Film Review :  Fight For My Way

Melejitnya film Itaewon Class membuat orang melirik film film yang dibintangi Park Seo-joon (PSJ) sebelumnya. Berbeda dengan tipikal Korean pretty boys yang aktingnya gitu gitu aja, dimodali tampang ‘laki banget’ dan akting natural, PSJ jadi aktor versatile. Karakter di film filmnya selalu berbeda. Mau acting jadi bos, rakyat jelata, sampai bodor bodoran cocok saja. Nah diantara film / drama PSJ yang pernah saya tonton, Fight For My Way yg dirilis tahun 2017 menjadi salah satu film terbaik PSJ.

Fight For My Way bergenre romcom. Kirain bercerita tentang drama percintaan remaja yang remeh temeh, ternyata plotnya justru digali dalam. Dengan genre slice of life,  menyorot realita kehidupan masyarakat biasa Korea yg berusaha meraih mimpinya.

Tersebutlah ada 4 sobat ambyar yang sudah temenan dari kecil. Ko Dong-man (Park Seo-joon), Choi Ae-ra (Kim Ji-won), Kim Joo-man (Ahn Jae-hong), Baek Seoul-hee (Song Ha-yoon). Dong man adalah bintang favorit di masa SMA. Jago taekwondo membuat dia jadi pujaan gadis gadis. Dia bercita cita jadi atlet nasional. Ae ra adalah cewek cakep yang bercita cita menjadi penyiar. 10 tahun berlalu, ternyata realita hidup tak seindah impian anak sma.

Dong man bekerja sebagai tukang pembasmi kutu, yang sering direndahkan sama bosnya. Ae ra menjadi petugas informasi di department store. Karena harus berdiri terus membuat dia rawan terkena varises. Joo man dan Seoul hee pacaran, tapi karena satu kantor, membuat mereka merahasiakan hubungannya. Joo man, sebagai yang paling pintar dan rajin, dia beruntung bisa kerja sebagai manajer di perusahaan home shopping. Sementara Seoul hee bekerja sebagai cs.

Dong man dan Ae ra itu semacam sad boy dan sad girl. Setiap masing masing punya pacar, selalu jadi korban dimodusin. Ujungnya mereka karena memang sudah nyaman temenan dari jaman piyik, jadilah pacaran.

Meski bergenre Romcom tapi bisa diolah menjadi plot yang tidak linear. Usaha Dong man kembali ke ring dan menjadi atlit mixed martial arts (MMA) adalah cerita yang menguras sisi melodrama film ini. Campuran antara usaha yang selalu gagal, trauma masa lalu, hubungan personal ayah dan anak. Ditambah lagi bumbu hubungan percintaan yg penuh dinamika dihadirkan dalam uwuw moments yang konyol gemas. Pesona film ini terletak pada story linenya. Ini tidak lepas dari tangan dingin sang penulisnya, Lim Sang Chun. Dia piawai dalam mengolah cerita. Ide film ini terinspirasi dari kisah hidup pemain martial arts Choo Sung Hoo dan istrinya. Tak heran jika film ini masuk nominasi Best Screenplay dari Baeksang Art Awards tahun 2018. Dan di tahun 2020 Lim Sang Chun benar benar diganjar Best Screenplay dari Baeksang Art Awards di film When The Camellia Blooms.

Untuk film ini, PSJ sampai latihan berbulan bulan demi mendapatkan bodi kedot perut six pack sehingga meyakinkan peran sebagai atlit MMA. Chemistry PSJ dan Kim Ji-woon ga main main. Jiwon main cakep, dibanding saat dia main di The Decendants of the Sun dan Heirs yang menurut saya biasa saja. Tak heran mereka berdua dapat penghargaan sebagai aktor terbaik.

Satu aja kurangnya film ini. poster filmnya yang unyu unyu. Kadang ini bikin misleading, padahal filmnya bagus dan memuat pesan pesan moral positif.

Btw, film ini bisa ditonton di Apps Vidio.

 

 

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *