Film Review : When the Camellia Blooms 

Inilah film yang menjadi jagoan dari ajang Baeksang Arts Awards ke-56 yang digelar 5 Juni lalu. Total meraih 4 penghargaan yaitu Best Actor (Kang Ha Neul), Best Supporting Actor (Oh Jung Se), Best Screenplay (Im Sang-choon) dan penghargaan tertinggi yaitu the Daesang (Grand Prize) untuk kategori  TV.

Kemenangan telak ini mematahkan hati para penggemar yang telah menjagokan drama-drama lain yang bersaing kuat seperti Crash Landing On You dan Itaewon Class. Tetapi setelah menamatkan film ini, harus diakui memang film ini layak mendapatkan penghargaan itu.

Peran ibu tunggal (Single Mom) tidak akan pernah habis untuk didokumentasikan dalam berlapis lapis cerita. Bayangkan seorang ibu tunggal datang membawa anaknya masih bayi ke tempat baru. Anak itu adalah hasil kumpul kebo dengan pacarnya, seorang atlet baseball papan atas plus selebriti yang membintangi banyak iklan. Dongbaek (Gong Hyo-jin) nama perempuan itu, datang ke kota Ongsan untuk mengadu nasib setelah memutuskan untuk tidak menjadi bayang bayang pacar selebnya itu. Dia membuka bar bernama Camellia dengan menu utamanya adalah alkohol dan babi tumis. Ongsan sebagai kota kecil pesisir mendadak heboh dengan kedatangannya. Dengan status dan pekerjaan dirinya itu Dongbaek adalah sosok yang sempurna untuk distigma. Dia seperti paradoks, dikagumi para laki-laki Ongsan sekaligus dimusuhi oleh para perempuan yang merasa insecured karena takut para suaminya akan kepincut dengan Dongbaek. Padahal perempuan mungil manis itu bukanlah model penggoda. Cenderung tidak percaya diri, berperasaan halus, dan selalu berusaha untuk menyenangkan orang-orang lain. Latar belakang dirinya sebagai anak yatim yang ditinggalkan ibunya membuat dia selalu hidup dalam ketidak berdayaan.

Dari sekian laki-laki yang terpesona dengan kecantikannya adalah Hwang Yong-sik (Kang Ha-neul), seorang polisi berpangkat rendahan yang bertugas di polsek Ongsan. Laki-laki kocak namun lurus hati itu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Dongbaek saat bertemu di perpustakaan. Chemistry antara dua tokoh utama ini memang bagus. Dengan akting yang natural, Kang Ha-neul memenangkan penghargaan sebagai Best Actor, mengalahkan para saingannya yang tak kalah kuat seperti Hyun Bin dan Park Seo-joon.

Premis cerita ini menarik. Karena kemudian muncul pembunuh misterius yang terlibat dalam serangkaian pembunuhan sadis. Si penjahat itu selalu menyisipkan pesan-pesan misteri yang ditujukan kepada para calon korbannya, termasuk ancaman kepada Dongbaek.

Episode pertama film ini sangat menjanjikan. Karena suspense sudah diciptakan di pembuka. Tetapi kemudian entah kenapa seiring dengan bergulirnya episode episode berikutnya, kepayahan untuk diikuti. Cerita berjalan dengan nggremet (istilah Jawa untuk pelan). Pengenalan setiap karakter-karakternya membuat lelah. Sampai di episode ke-lima saya hampir menyerah dan mulai berpikir untuk meninggalkan. Akhirnya pelan-pelan kembali diikuti. Tenyata seiring waktu, pola cerita dan karakter-karakternya mulai terbentuk. Ibarat menanam bunga di akhir musim gugur, maka di awalan kita belum tahu akan seperti apa benih yang ditanam itu. Butuh proses dengan perlahan. Sampai akhirnya benih bertunas, bertumbuh, hingga kemudian syiiiutttt….. berkembang menjadi bunga yang cantik. Seperti judulnya, When the Camellia Blooms. Ibarat film ini adalah bunga, saat sudah mekar, siapapun tidak kuasa untuk menolak keindahannya.

Film yang mengambil genre slice of life, yaitu memotret kehidupan sehari-hari yang realistis yang memberikan keindahan natural ini justru memikat dalam kesederhanaan. Film ini tidak bermodalkan wajah wajah tampang mempesona, dengan kuda putih atau aksi heroik, yang membuat para penonton mabuk dalam kehaluan hingga langit ketujuh.Tetapi justru secara pelan menyeruak dalam hati penonton dan memberikan kehangatan. Semakin diikuti, setiap karakternya mampu memilin hati penonton. Cerita tentang hubungan ibu dan anak, perjuangan para perempuan demi kebahagian anak anaknya, rapuhnya kehidupan rumah tangga, rapuhnya anak umur 8 tahun yang harus terombang ambing dalam permasalahan orang dewasa, tentang mengatasi trauma masa lalu. Pokoknya semua saling berkelindan dalam adukan genre drama, romance, komedi dan thriller.

Menonton film ini tidak perlu tergesa. Menonton di waktu luang saja. Karena kekuatan film ini justru pada dialog-dialognya yang mengalir penuh dengan gaya bahasa metaphor. Tidak heran bahwa film ini memenangkan penghargaan sebagai Best Screenplay. Penulisnya, Im Sang-choo adalah penulis sekaligus sutradara kawakan yang karya-karyanya banyak mendapat penghargaan hingga internasional. Saya mengenal karyanya dalam film Fight For My Way, yang dibintangi Park Seo-joon. (Tentang film ini nanti saya buatkan reviewnya).

Seperti yang saya cuplik dalam adegan ini ketika Dongbaek dan Yong-sik makan di sebuah warung pangsit. Menikmati film ini tidak perlu tergesa dan menggebu. Tidak perlu api besar, tetapi dengan uap airnya saja, sanggup untuk mematangkan pangsit. Dan kita bisa menangkap pesan pesan subliminal yang berserakan dalam dialog dan facial expression dari para karakternya.

SINEMATOGRAFI DAN GAYA BUSANA

Bukan film Korea kalau tidak menitik beratkan pada nilai-nilai artistik dengan kurasi tinggi. Di luar dari scene thriller yang gelap, ambience dari film ini hangat. Pilihan color tonenya akrab di mata. Pengambilan gambar yang menarik.

Sosok Dongbaek sebagai karakter utama, selain jago dalam menerjemahkan emosi-emosi yang ada, juga diberikan ciri khas dalam gaya pakaiannya. Pilihan pada baju-baju retro dan vintage, dengan aksen floral adalah kombinasi yang pas dengan ambience dari keseluruhan film ini. Meski menurut saya untuk sebuah karakter yang dikisahkan punya kesulitan finansial, sepertinya menjadi tidak nyambung dengan pilihan baju bajunya yang chic dan berganti ganti. Bisa jadi itu baju baju koleksinya semasa masih hidup di Seoul bersama dengan pacarnya yang kaya. Anyway, meski kurang nyambung, tetapi penampilannya yang stylish itu bikin enak dilihat. Ini seperti memberikan gambaran jurang perbedaan antara selera busana dari kota metropolitan Seoul dengan selera yang ampun deh dari para buk ibuk tukang nyinyir di Ongsan yang bajunya aduhai noraknya.

Ini bisa diintip beberapa gayanya dalam sejumlah scene.

Ketika Yong-sik bertemu pertama kali dengan Dongbaek. Memakai baju terusan biru polkadot yang chic.
Overall menjadi signaturenya Dongbaek. Dipadu dengan topi.
Overall menjadi signaturenya Dongbaek. Kebanyakn dengan motif floral.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *