FILM REVIEW : LAMPOR : KERANDA TERBANG (2019)

 

Hujan lebat sudah mengguyur Kampung Bendo sejak sore. Pertanda baik, karena buah Bendo yang matang pohon akan jatuh. Bocah umur 8 tahun itu sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga dia bakal panen buah Bendo, karena hujanlah yang akan merontokkan buah itu dari pohonnya yang tinggi menjulang dan tidak ada seorang pun yang berani memanjatnya karena angker. Dia sudah membayangkan kenikmatan biji Bendo yang dibakar. Dini hari dia mengendap-endap ke luar rumah. Gelap gulita. Kampung belum ada listrik. Dia sudah menggenggam obor yang masih belum dinyalakan.  Pikirnya akan minta api pada orang yang lewat. Tanpa penerangan dan jalanan becek, dia berjalan dengan hati-hati takut terpeleset.  Yang dinanti muncul. Dari kejauhan muncul cahaya terang berderet- deret. Dia sudah riang.  Segera dia mendekat ke arah cahaya itu. Cahaya itu muncul dari obor-obor yang dipegang oleh beberapa orang. Bocah itu berteriak, tapi suaranya ditelan oleh suara bising seperti suara lebah yang tiba-tiba datang. Semakin mendekat, orang-orang pembawa obor itu rupanya membawa keranda. Jalannya cepat. Bising suara mirip lebah semakin kencang. Suaranya ditelan oleh bising itu. Tidak lama sreeet…. Orang-orang itu pergi secepat kilat ke arah timur. Sementara bocah itu mematung dengan pucat pasi. L.A.M.P.O.R  !  Dengan sipat kuping, dia lari sekuat tenaga ke rumah.

Itulah pengalaman ibu saya di waktu kecil ketika dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan Lampor. Sebuah demit legenda yang dipercaya orang-orang di kampungnya. Yang dia lihat hanya orang-orang berjalan cepat sehingga nyaris terbang, membawa keranda itu.

Saya (amit-amit jabang bayi), belum pernah mengalami bertemu dengan Lampor. Hantu itu menjadi legenda yang ampuh untuk menakuti anak-anak agar main di luar rumah tidak larut malam.

Dan berbilang tahun kemudian, Lampor itu muncul kembali. Untungnya bukan asli, tapi versi film layar lebar. Diangkat oleh Sutradara Guntur Soeharjanto dan diproduksi oleh Starvision, film ini menjadi sebuah tribute untuk kampung halaman sang sutradara yaitu Temanggung.

Kehadiran film Lampor ini adalah hadiah tersendiri yang disambut dengan suka cita oleh warganya, termasuk saya.  Karena film ini mengangkat secara utuh cerita legenda, berikut lanskap, kultur, para pemain lokal, hingga dialek khas Temanggung.

Premis film ini menarik. Adalah Netta (Adinia Wirasti) yang harus datang ke kampung halamannya di Temanggung untuk menyelesaikan satu persoalan keluarga. Kedatangannya didampingi oleh suaminya, Edwin (Dion Wiyoko), dan dua anaknya, Adam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie). Kepulangan Netta bukan hal mudah. Pengalaman traumatis di masa kecil ketika adiknya mati digondol lampor masih menghantuinya dan menjadi mimpi buruknya setiap saat. Oya Lampor dalam film ini hadir tidak hanya berupa keranda terbang tetapi juga ada pemilknya yang divisualisasikan seperti voldemort. Sah-sah saja karena memang film butuh visualisasi dramatis. Kedatangan Netta di desanya dalam waktu yang tidak tepat, karena berbarengan dengan bapaknya, Jamal (Mathias Muchus) meninggal dunia. Konflik pun bergulir dalam pusaran keluarga antara Netta, ibu tirinya, anak angkat bapaknya, hingga pasangan selingkuh ibu tirinya. Konflik memuncak dengan munculnya Lampor yang terus memakan korban. Kedatangan Netta yang sepertinya sudah dinantikan oleh Lampor, yang diharapkan akan menjadi pemungkas dari teror Lampor. Cerita bergulir mencekam, suspense demi suspense terus menghantui tanpa jeda.

Secara cerita, film ini solid. Strukturnya dari awal hingga akhir, termasuk twist yang dihadirkan tidak menjadi ganjalan. Semua mengalir sesuai porsinya.

Yang menarik secara keseluruhan dari film Lampor ini adalah keseriusan dalam mengangkat film horor dengan pendekatan atmospheric. Sudah jamak kalau film horor itu bisa dibuat secara simpel, modal suara seram, banjir darah yang penting penonton sukses jejeritan. Tetapi Lampor diangkat sebagai sebuah film dengan visualisasi mendalam, dihadirkan sedemikian rupa dalam sinematografi yang indah namun mencekam.

Suasana desa yang tintrim, dingin berkabut, cukup membuat suasana merinding. Lanskap alam yang masih wingit, angker dan masih jadi sumber habitat para makhluk astral, dihadirkan dalam suasana detail. Keseriusan mengangkat budaya lokal hingga pada detail dialek khas masyarakat setempat juga menjadi sebuah usaha yang patut mendapat apresiasi.

Ini didukung oleh totalitas akting para aktornya. Adinia Wirasti dan Dion Wiyoko tampil dengan bagus. Chemistry antara keduanya sepertinya sudah didapatkan, maklum sebelumnya mereka dipasangkan dalam film Cek Toko Sebelah.  Ekspresi emosi yang ditampilkan secara detail pada Adinia dan Dion Wiyoko menguatkan suspense yang mengalir dalam setiap scene.

Lampor adalah sajian sebuah karya seni yang serius, detail, dan tetap mencengkam. Ini yang  membedakan dari film-film horor kebanyakan.

Saya ucapkan selamat juga buat para seniman lokal Temanggung yang turut mendukung film ini dengan semangat gempita layaknya hajatan kampung sendiri. Bagaimana sebuah seni dan industri bisa berkolaborasi dengan menggerakkan energi masyarakat lokal untuk berperan serta.

Film Lampor : Keranda Terbang tayang di bioskop mulai 31 Oktober 2019.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *