FILM REVIEW : ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN DALAM MENONTON BUMI MANUSIA (2019)

Begitu berisiknya orang memberikan komentar tentang film Bumi Manusia. Ada yang sudah menonton dan bilang hanya tahan 30 menit, ada juga komentar pedas-pedas tetapi lucunya yang bersangkutan belum menonton.  Tetapi ada juga yang mengapresiasinya.  Menyimak komentar-komentar aneka rupa terus terang membuat distorsi. Mengikuti petuah Pramoedya Ananta Toer untuk adil sejak dalam pemikiran, maka daripada penasaran mending menonton filmnya langsung.

Jadilah suatu hari saya menyambangi bioskop, rustig zitten (ceile sok pakai bahasa Belanda, duduk tenang maksudnya), dan mengosongkan pikiran dan hati untuk menikmati film besutan Hanung Bramantyo.  Saya memperhatikan reaksi diri saya sendiri untuk 30 menit pertama. Akankah tertidur atau dilanda kebosanan ? Rupanya saya masih anteng menyimak sampai 2,5 jam berikutnya.

Sosok Iqbaal Ramadhan yang menjadi sandungan pertama film Bumi Manusia memang agak susah dimaafkan oleh pembaca fanatik buku-buku Pram. Saya pribadi jika bisa memilih, seandainya Oka Antara masih muda (teteeeup yaa), dia lebih pas memerankan. Mukanya Jawa, aktingya bagus. Sayang tidak bisa berandai-andai. Iqbaal tetap menjadi Minke. Badannya yang kecil, mukanya yang mbocahi, sedikit mengganggu, eh tapi kok ya lama-lama terbiasa. Tampang clueless Iqbaal yang menyelamatkan penilaian saya terhadap aktingnya, sehingga akhirnya bisa menerima keberadaannya. Minke yang saat itu usia 17 – 18 tahunan, penuh kebingungan karena menemukan fakta kehidupan yang paradoks. Di satu sisi merasakan manfaat dengan adanya kemajuan yang dibawa oleh bangsa Eropa, disisi lain dia menemukan fakta menyakitkan tentang politik rasialis yang dibawa oleh Belanda. Wajah clueless dan perplexed, duh apa ya bahasa Indonesia yang lebih tepat, itu ada di tampang Iqbaal.

Secara keseluruhan saya masih bisa menerima film ini. Bagus secara komersial, dan ternyata tidak semenyeramkan komentar orang-orang. Ik vind die film leuk. Menyenangkan sebagai tontonan.

“Wiih kok bisa ? Tumben biasanya komentarmu  julid,” kata teman yang menjadi pembaca fanatik buku Pram dan memutuskan tidak menonton agar tidak rusak imajinasinya.  Saya mengangguk yakin. Bahwa pilihan saya ini memang diambil dari pengalaman saya menonton sendiri.

Tapi, penilaian positif saya itu tetap dengan adanyanya catatan. Pilihan pragmatis untuk menitik beratkan pada glorifikasi romansa Minke dan Annelies adalah kompromi antara realitas industri dan idealisme. Romansa adalah bumbu ajaib dalam film apapun. Ibarat micin dalam makanan, romansa adalah pengikat penonton dengan film. Di film ini, yang bisa mengharu birukan penonton adalah kisah cinta terpisahkan antara Minke dan Annelies, dan sungguh sayang perlawan terhadap kolonial itu menjadi ornamen semata.

Beruntung film ini ditunjang oleh ketrampilan para pemainnya. Hadirnya Sha Ine Febriyanti adalah nyawa dari keseluruhan film. Karakternya sebagai Nyai Ontosoroh sangat kuat, sehingga terkadang penonton lupa kalau Minke lah sebenarnya tokoh utama di film ini. Mawar Eva main dengan manis meski kurang stabil. Terkadang kuat, terkadang biasa saja. Donny Damara dan Ayu Laksmi bisa menyumbang karisma di film ini. Tampang tampang indo yang menjadi tokoh Suurhof atau Jan lumayan juga aktingnya. Bahasa belandanya terdengar enak. Oya, terkait bahasa Belanda, ini juga salah satu faktor yang membuat saya betah menonton. Karena film yang sebagian besar dibawakan dalam bahasa Belanda, dan khususnya dibawakan oleh aktor-aktor asal Belanda asli, membuat saya bernostalgia dengan bahasa yang pernah saya pelajari 10 tahun lalu, yang sebagian besar sudah hilang dari ingatan he he.  Ada satu karakter lagi yang mencuri perhatian, yaitu Darsam, centengnya Nyai Ontosoroh yang dibawakan oleh Whani Darmawan, pemain teater kawakan dari Jogjakarta.

Nah ketika para pemainnya bermain dengan apik, yang bikin ngganjel dari film Bumi Manusia ini adalah production design. Gambar-gambar yang terlihat mulus kinclong, terang, menyala. Warna bangunan yang catnya masih terang dan mulus, warna baju kinclong mulai dari para priyayi hingga rakyat jelata. Bahkan keranjang sayuran pun seperti baru dibeli di pasar. Ambien masa kolonial yang kuno tidak terasa di film ini. Gapura di tengah sawah yang terlihat kinclong bak gapura perayaan Agustusan. Make up yang terasa kekinian. Warna lipstik Nyai Ontosoroh yang berubah ubah mengikuti warna bajunya. Seorang teman produser sambil berkelakar bilang Hanung itu ciri khasnya kan seperti film-film India, grande dan festive.

Kembali lagi soal Nyai Ontosoroh. Dialah dewi penyelamat film Bumi Manusia. Pertahanan saya ambyar ketika adegan Nyai Ontosoroh diadili, disuruh lepas sandal dan berjalan sembari jongkok.  Pada bagian ini sukses mengaduk aduk emosi. Bisa merasakan bagaimana hidup di masa kolonial itu menyakitkan.

Durasi film hingga 3 jam itu sebenarnya bisa dipangkas menjadi ringkes cukup dua jam saja. Karena banyak scene – scene mubazir, misalnya tentang pesta pernikahan Minke dan Annelies yang seperti pernikahan jaman sekarang. Serius deh gregetan,  pernikahan di jaman kolonial itu seperti apa.

Terlepas dari hiruk pikuk yang terjadi, adaptasi karya Pram ke layar lebar adalah satu hal yang patut dirayakan. Jika ada yang masih belum puas dengan film versi Hanung ini, semoga di kesempatan lain ada film Bumi Manusia versi-versi lain. Juga adaptasi karya-karya Pram yang lain. Lihat saja karya Jane Austen “Pride and Prejudice” yang diadaptasi dalam berbagai versi. Bahkan para penontonnya ada yang ribut saling membanggakan versi kesukaan masing-masing.

Selama bumi masih berputar, selama manusia masih membutuhkan hiburan, film akan selalui dibuat, dan akan selalu membutuhkan sumber cerita.

Untuk film ini saya memberikan rating : 3,5 dari 5 bintang.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *