Film Review : Green Book (2019)

Apa yang bisa kamu harapkan dalam hidup ketika kamu terlahir dengan predikat minoritas yang berlapis-lapis. Sama ngenesnya ketika kamu terlahir dari golongan marjinal, di mana kemiskinan sudah mengguyur sekujur tubuh, dan parahnya diwariskan dari beberapa generasi sebelumnya.

Sungguh hidup anak manusia itu rumit. Dan takdir mengharuskan dua anak manusia yaitu Tony “Tony Lip” Vallelonga (Viggo Mortensen), seorang imigran jelata keturunan Italia  yang tinggal di Bronx dan Don Shirley (Mahershala Ali), seorang African-American yang  berprofesi sebagai pemain piano klasik, harus melakukan perjalanan ke daerah Amerika bagian Selatan yang di tahun 1960-an rasisme masih menjadi issue sensitif dan ada pemisahan di ruang publik antara ras kulit putih dan kulit hitam.

Don Shirley memperkerjakan Tony Lip sebagai sopir pribadi sekaligus menjadi body guardnya untuk turnya keliling negara-negara di bagian selatan Amerika Serikat. Mereka berpanduan pada buku kecil bernama Green Book, sebuah buku panduan yang berisikan daftar nama restoran dan motel yang bisa menerima warga ras kulit hitam.

Ibarat ‘Cebong’ dan ‘Kampret’, Don Shirley dan Tony Lip adalah dua pribadi yang sangat bertolak belakang. Tony Lip yang diperankan dengan sangat baik oleh Viggo Mortensen, kalau di Indonesia mungkin diberi julukan Tony Bacot. Maklum dengan bacotnya yang gede, plus kekuatan otot, dia bisa bertahan di tengah kerasnya kehidupan Bronx. Sementara Don Shirley yang santun, berpendidikan, mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sangat taat pada aturan. Masing-masing mempunyai prasangka tersendiri. Tetapi kondisi mengharuskan mereka harus saling bahu membahu agar perjalanan mereka berlangsung dengan lancar.

 

Best of Everything

Saya tidak akan menceritakan bagaimana perjalanan mereka, karena memang sebaiknya Anda tonton sendiri untuk menikmati setiap scene demi scene. Yang saya perlu garis bawahi adalah film Green Book ini adalah sebuah masterpiece yang bisa menjadi rujukan bagi para movie makers. Film bergenre drama komedi ini mengambil kisah nyata dari Don Shirley dan Tony Lip.  Disutradarai oleh Peter Farrelly, dimana Farrely sendiri juga secara  kroyokan menulis scriptnya bersama dengan Brian Hayes Currie dan anaknya Tony Lip sendiri yaitu Nick Vallelonga.

Scriptnya sangat solid. Eksekusinya benar-benar bagus. Ditunjang dengan akting yang mempesona dari para pemainnya. Viggo Mortensen dan Mahershala Ali bisa menjadi dua sosok yang saling melengkapi. Tak tangggung-tanggung mereka mempersiapkan diri jauh-jauh hari sekitar 9 bulan sebelum syuting dimulai. Dialog-dialognya menghasilkan punch line yang ngena banget.

Sinematografinya indah, coloring apik, hingga the art of showingnya. Beberapa scene tanpa dialog, sudah sangat menggambarkan film. Misalnya kemarahan Don Shirley atas perlakuan rasis terhadap dirinya yang diterjemahkan dalam permainan piano yang apik. Atau opening yang menggambarkan bagaimana karakter Tony Lip. Pergumulan dari setiap karakternya yang tidak mudah, mencapai titik konflik, hingga resolusi yang semua disajikan dalam waktu yang pas.

Inilah film yang bisa mengaduk-aduk emosi penonton, mengajak penonton untuk berlatih mengasah empati, menebalkan rasa kemanusiaan, juga menepiskan rasa prasangka buruk kepada sesama. Keluar dari bioskop, ada perasaan hangat di dada. Aahh… Green Book adalah sebuah feel good movie. Saya memberikan rating 5 dari 5 bintang.

Dari Academy Awards 2019, Geen Book memenangkan kategori :

Best Motion Picture of the Year

Best Original Screenplay

Best Perfomance by an Actor in a Supporting Role.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *