Film Review : Milly & Mamet (2018) Lebih Greget Daripada Cinta & Rangga

Saya mengaminkan ungkapan yang menyatakan bahwa “Film is the art of detail.”  Setelah pernah mengamati gimana produksi film dan melihat proses syuting, ternyata susah tauk buat film itu. Dan lebih susah lagi adalah bagaiman membuat film yang bagus. Tak heran jika film yang sudah susah payah dibuat berakhir dalam review yang berisi kritikan bahkan tidak jarang cemoohan, hingga sampai viral. Sentimen-sentimen negative dari review film sangat mempengaruhi kelangsungan hidup film itu. Maklum di Indonesia, kalau ga kuat banget promonya dan filmnya ga bagus, bisa langsung nyungsep.

Satu hal yang sering saya amati dalam film-film Indonesia adalah kurangnya penggarapan script / screenplay. Padahal setahu saya (maaf kalau sotoy), script itu fondasi dari film, dari situlah semua hal dibangun. Kadang penonton dibuai oleh seting film yang aduhai indah mengambil lokasi di luar negeri, tetapi miskin plot. Penonton dipaksa untuk mengikuti alur cerita yang kadang tidak masuk akal. Atau film yang tampak menjanjikan di awal sehingga ekspetasi penonton terbangun, mendadak jadi hilang arah di tengah-tengah, dan ga tahu gimana lagi ujungnya (ini sih nggak hanya film Indonesia, film Hollywood juga kadang bernasib seperti ini).

Nah saat nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga), saya berusaha menjauhkan harapan dan menikmati adegan demi adegan. Dan harus diakui bahwa karya Ernest Prakasa semakin matang. Film ini jauh lebih bagus dari Susah Sinyal. Bahkan melebihi Cek Toko Sebelah. Karya ini seperti menjadi jawaban polemik beberapa waktu lalu yang sempat hangat di twitter soal Director vs Co Director.

Film Milly & Mamet yang merupakan spin-off dari film AADC, mengangkat kisah cinta Milly dan Mamet, yang dibesut dengan genre drama komedi. Secara garis besar sebenarnya ceritanya jamak, yaitu kehidupan keluarga muda kaum urban Jakarta dengan segala problematika klasiknya, misal suami yang insecure dengan pekerjaannya, perempuan yang diterkam dilema antara menjadi ibu rumah tangga atau berkarir, dan endingnya pun mudah ditebak. Yang istimewa dari film ini adalah penggarapannya yang rapi. Plotnya benar-benar serius dipikirkan sehingga nyaris tidak menyisakan ruang kosong (ini yang kadang terjadi di kebanyakan film Indonesia, di mana adegan lambat dan cerita tidak bergulir cepat). Hal yang menarik juga adalah dialog-dialognya yang menjadi perenyah suasana. Dengan latar belakang komika, Ernest mampu memilih dialog yang kece, sehingga dialog menjadi kunci dalam menguatkan karakter setiap pemerannya. Dan, joke-joke receh yang bertebaran porsinya pas, tidak kebanyakan tapi sanggup mengocok perut penonton sepanjang film. Meski demikian film ini juga tidak melewatkan elemen dramanya, sehingga tetap menyentuh emosi.

Baca juga review Susah Sinyal

Dari kekuatan karakter dan plot, saya lebih senang dengan Milly & Mamet daripada Rangga & Cinta. Karakternya lebih reliable, dan konfliknya relate dengan kehidupan sehari hari. Beberapa konflik receh yang dihadirkan itu sanggup membuat saya dan suami sikut-sikutan di bioskop. Soalnya asli, itu sih kita bangeeeed. Contohnya seperti saat Milly complain tentang toilet yang kotor ha ha ha.

Pilihan castnya juga pas. Sissy Priscillia dan Dennis Adhiswara mainnya bagus banget. Mengalir dan chemistry keduanya dapat. Sementara cast lain juga aktingnya bagus. Daan tidak nyangka saja Isyana Sarasvati bisa akting gokil. Oya satu hal aja yang menjadi kritik minor atas cast ini. Kehadiran Eva Celia yang sepertinya menjadi karakter yang sekedar tempelan saja karena tidak memberikan kontribusi yang krusial. Kalau porsinya diberikan pada geng Cinta, akan lebih bermanfaat, karena mereka (sayangnya) hanya ditampilkan sekilas saja. Oya, bicara soal soundtrack, juga bagus. Pokoknya pas deh dengan filmnya. 

Semoga film ini jadi standard bagus untuk film-film Indonesia. Marketable tapi tetap berkualitas.

Congrats Ernest dan Meira !

#reviewfilm

#millymamet

#buzzerikhlas

 

*Film ini mendapatkan rating : 4.5 dari 5 bintang

MILLY & MAMET

Sutradara           Ernest Prakasa

Produser            Chand Parwez Servia, Mira Lesmana, Fiaz Servia

Penulis               Ernest Prakasa, Meira Anastasia

Pemeran            Sissy Priscillia, Dennis Adhiswara, Ernest Prakasa, Julie Estelle, Yoshi                                      Sudarso, Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Adinia Wirasti

Musik                 Andhika Triyadi

Sinematografi   Robby Herbi

Penyunting        Ryan Purwoko

Perusahaan produksi     : PT Kharisma Starvision Plus, Miles Films

Distributor         PT Kharisma Starvision Plus

Tanggal rilis       20 Desember 2018

 

 

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *