Mengapa Jan Ethes Tidak Memanggil Jokowi Dengan Sebutan Eyang Atau Opa ?

Dahulu banget saat saya masih umur 5 tahunan, tiba-tiba ada ada anak pindahan dari Jakarta ke kampung saya. Kakak beradik, seumuran sama saya. Mereka tinggal bersama neneknya. Mereka memakai bahasa yang asing di telinga anak-anak kampung kebanyakan. Pakai bahasa Indonesia yang beda dialeknya dengan yang kami biasa dengar lewat siaran TVRI. Mendengar kata elu, gue itu terasa asing dan eksotis. Dan satu hal lagi, mereka memanggil sang nenek dengan sebutan Oma. Ini juga panggilan yang tak kalah asingnya. Di sekitar rumah saya, panggilan umum kepada kakek atau nenek ya simbah, mbah, atau kadang disingkat mbah  kung, mbah putri, atau  mbah lanang, mbah wedhok. Ada sih yang memanggil dengan sebutan eyang, tapi itu sedikit sekali.

Bagi anak kampung yang sehari-hari berbahasa Jawa, berkomunikasi dengan bahasa Indonesia itu kadang menyulitkan sekaligus menggelikan. Kosa kata pertama bahasa Indonesia yang melekat dalam ingatan adalah kata bohong. Saat itu kakak beradik itu menyebut saya ‘kamu bohong.’ Saya serta merta menyangkalnya dan buru-buru membuka rok. “Iki aku ora bolong.”  Ola la, ternyata kata bohong itu saya pikir artinya bolong, dan bolong itu identik dengan celana ha ha ha.

Dan kembali ke panggian Oma itu, saya pun selalu takjub setiap kali nama itu disebut. Nama yang terkesan modern, kebarat-baratan, sesuai dengan nenek dari kakak beradik itu yang tiap bicara suka ada selipan bahasa asingnya, yang belakangan saya baru paham itu istilah bahasa Belanda.

Panggila seseorang dalam hubungan kekerabatan itu menunjukkan simbol status tertentu. Panggilan mbah dari seorang cucu kepada kakeknya itu adalah panggilan yang jamak, merakyat. Dan saya kaget ketika dengan santai Jan Ethes, cucu Presiden Jokowi memanggilnya dengan Mbah. Mbah Owi tepatnya.  Sebagai orang yang didapuk sebagai pimpinan tertinggi negara, tentunya sangat eligible untuk disebut Eyang oleh cucunya, panggilan tertinggi dalam stata sosial masyarakat Jawa. Atau karena orang tua Jan Ethes itu tergolong generasi milenial, bisa saja mengajarinya dengan panggilan yang lebih modern seperti Opa atau Grandpa.

Bahkan jangankan menjadi Presiden, kalaupun masih menjadi Gubernur, atau jadi Walikota, atau jauh sebelumnya lagi, saat jadi pengusaha mebel, panggilan Eyang pun sebenarnya sudah berhak disandang oleh seorang Jokowi. Sebagai perbandingan saja, seseorang yang berprofesi menjadi guru di kampung kami, sudah masuk golongan para priyayi, dan sebutan yang tepat kalau dia menjadi seorang kakek atau nenek ya Eyang.

Jadi saya takjub apa yang melatar belakangi seorang Jokowi untuk membiarkan cucunya memanggil dirinya dengan sebutan Mbah. Padahal sekali lagi panggilan itu adalah simbol status. Hanya Jokowi dan keluarganya yang tahu motif penyebutan itu. Ketika menyimak video keluarga Jokowi yang diwawancara oleh Najwa Shihab, tidak terasa hati juga terasa menghangat. Seperti keluarga Indonesia kebanyakan. Genuine. Tidak dibuat-buat. Begitulah adanya.

 

 

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *