FILM REVIEW : A Man Called Ahok Itu Cocoknya Diberi Judul A Father’s Wishes (2018)

Ceritanya menjadi anak yg berbakti dengan mengantarkan ibu saya yg pengen nonton film Ahok. Kaget juga ternyata hampir semua studio di bioskop Depok sudah full. Untung masih dapat studio yg kursinya ga terlalu di depan. Nah ini berkat beli tiket di tix.id dan bayar pakai Dana, jadi pesan tiket tinggal sekali klik dan berangkat ke bioskop tanpa khawatir tiket kehabisan.

Ini sekilas review saya ttg film ini purely sebagai penonton. Sebagai film biopic dari pembuat film yang namanya bagi saya masih asing, film ini digarap dengan keseriusan. Hasilnya sinematografinya apik. Pilihan aktornya juga tidak ecek ecek. Sebut aja Yayu Unru, Donny Damara, Chew Kin Wah, Dewi Irawan.

Hanya film ini punya hole dari sisi plotnya. Juga pacenya, yang aduh duh super lambat. Sebagai film yg ternyata lebih banyak menceritakan tentang kehidupan Ahok semasa kecil di Belitung, dengan fokus utama pada peran ayah Ahok, Tjung Kim Nam, yang mendominasi 80 persen cerita film ini. Kalau film ini fokusnya memang hubungan ayah dan anak (sepertinya sang pembuat film sadar untuk main aman saja di arena yg tidak mengundang gaduh politik, apalagi ehmm agama), saya cuma berpikir praktisnya judulnya diganti saja, misalnya menjadi A Father’s Wishes.

Sayang dua karakter utama di film ini justru mentah untuk dikembangkan. Saya merasa tidak ada chemistry antara kedua karakter ini. Ahok kecil digambarkan sebagai pribadi penurut, introvert dan lebih sebagai observer. Jomplang dengan kepribadiannya saat dewasa yg outspoken, meledak meledak, bahkan hubungan dengan ayahnya pun tidak mulus. (btw, lihat akting Daniel Mananta kok jadi berasa capek ya). Padahal kalau jeli, konflik inter personal dalam film ini, dengan segenap variable di dalamnya baik itu seting lanskap, sosial, ekonomi, mayoritas vs minoritas, bisa diolah lebih komprehensif lagi. Dan tidak menutup kemungkinan menjadi film yang inspiring dan evergreen, karena sarat pesan moral. Saya bayangkan Laskar Pelangi-esque, tapi lebih greget lagi, seperti laiknya film film karya sineas Iran Majid Majidi, sehingga layak dimajukan dalam ajang festival film internasional.

Tapi sudahlah, ini kan ekspetasi dari penonton cerewet model saya ini. Toh film ini bisa melenggang sebagai Box office dengan meraup lebib dari saju juta penonton. Tapi ya itu cuma greget aja. Banyak film biopic dari luar yang bisa dijadikan referensi, bagaimana mengolah plot menjadi istimewa, misal Loving Pablo atau The Pursuit of Happyness.

Anyway saya cukup gembira melihat ibu saya lekat melihat ke layar sembari sesekali manggut manggut. Saat pulang, iseng saya tanya gimana filmnya.

“Wong apik ngono kok malah di penjara yo… Melas.”

 

2-12-18

Minggu yang ngelangut, menerawang nyawang pyan, sembari berandai berandai satu dua hal tentang mimpi Indonesia yg indah.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *