FILM REVIEW : KOKI-KOKI CILIK (2018)

Musim liburan ini, anak-anak dimanjakan oleh berbagai tayangan film layar lebar, salah satunya film Koki Koki Cilik. Melihat poster filmnya, saya membayangkan ini sekedar film anak-anak biasa dengan segala keceriannya. Ternyata melebihi ekspetasi saya.

Adalah Bima (Farras Fatik), seorang anak yang ingin mengikuti Cooking Camp, sebuah kompetisi masak untuk anak-anak yang sangat bergengsi dan mahal. Ayah Bima sudah meninggal, dia berprofesi menjadi juru masak. Itulah yang memotivasi Bima untuk ikutan kompetisi ini, di mana dia bisa mempraktekkan resep-resep andalah ayahnya almarhum. Ibunya Bima, Aini (Fanny Fabriana) yang hanya seorang tukang jahit, tidak mampu untuk membayar uang pendaftaran yang mahal. Beruntung Bima akhirnya bisa ikutan berkat saweran dari orang-orang sekampung, tentunya dengan harapan besar Bima akan memenangkan kompetisi ini.

Dengan segala kekurangannya, Bima harus menghadapi tantangan memasak dari Chef Grant (Ringgo Agus Rahman) dan bersaing dengan Audrey (Chloe X), sang juara masak tiga kali berturut-turut di Cooking Camp, serta Oliver (Patrick Milligan), anak pemilik restoran terkenal. Bullying terhadap Bima terjadi dari geng Oliver, tapi untungnya Bima disupport oleh teman-temannya. Salah satu adegan yang lucu adalah ketika Bima ditantang untuk membuat sushi, dan yang dia buat adalah lontong karena dia tidak pernah tahu sebelumnya apa itu sushi.

Dengan seting masak memasak, sepanjang film penonton disuguhi visual aneka makanan yang menggugah selera. Beberapa scene cut to cut, kadang close up, menampikan bagaimana proses pengolahan makanan yang tampil dengan warna-warna vibrant. Scene foodporn yang sanggup bikin menelan ludah beberapa kali.

Di tengah film, keceriaan anak-anak berubah menjadi drama sedikit gelap, ketika muncul sosok Rama (Morgan Oey), staf cleaning service di Cooking Camp yang sebenarnya adalah seorang chef terkenal. Plot yang tidak linear ini menghasilkan drama yang mengharu biru. Bima dengan segala perjuangannya berhasil menjadi murid Chef Rama dan bersiap memenangkan kompetisi melawan juara bertahan Audrey. Kembali penonton diaduk-aduk perasaannya ketika kompetisi semakin dekat, dan akhirnya terungkap sisi lain dibalik kecemerlangannya Audrey.

Bagi penonton super ceriwit macam saya ini, film Koki Koki Cilik melewati ekspetasi saya, memenuhi kriteria film yang layak direkomendasikan untuk ditonton. Sutradara Ifa Isfansyah dengan piawai mengemas film ini dengan apik. Produksinya rapi, pacing yang pas sehingga tidak membosankan, plus akting para pemainnya yang natural. Dari semua film Morgan Oey yang pernah saya tonton, peran Rama inilah yang menurut saya paling pas. Akting pemeran utamanya, Farras Fatik juga bagus. Satu pemain yang membuat saya berkesan adalah Chloe X, yang ternyata adalah keponakan Agnez Mo. Tidak lupa tampilnya aktor kawakan Adi Kurdi.

Kekuatan cerita / plotnya sukses menjadi perekat yang membuat emosi penonton teraduk-teraduk. Pesan moralnya kuat baik untuk anak-anak maupun orang tua. Setidaknya para orang tua yang menonton bisa ‘tercubit’ hatinya jika selama ini suka memaksakan kehendak pada anak-anak, sehingga bisa lebih memahami passion anak-anaknya.

Menonton film Koki Koki Cilik ini sekilas mengingatkan saya pada film COCO, film anak-anak yang pesannya bagus.

Buat film Koki Koki Cilik, saya berikan bintang 4,5 dari 5 bintang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *