Sedikit Catatan Dari Yang Gagal Dicuci Otak Racun Radikalisme

Dita Siska Millenia (18) bersama dengan rekannya Siska Nur Azizah (19) ditangkap oleh Densus 88 pada Sabtu, 12 Mei 2018 karena diduga akan melakukan penyerangan terhadap anggota Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Dari balik cadarnya ditemukan gunting yang menurut pengakuannya akan digunakan untuk aksi amaliyah.

Sesuai info yang tertera di KTP,  Dita Siska Millenia kelahiran Desa Jambon,  Gemawang,  yang lokasinya belasan km dari pusat kota Temanggung,  kota kelahiran saya. Orang tuanya memberikan nama modern kekinian,  bukan nama-nama seperti Sundari,  Sumiyati, Suprihatin yang lebih sesuai dengan lanskap Gemawang, pedesaan yang terkenal sulit air.  Dulu saat kecil saya sering diajak ke sana oleh orang tua karena ada mbah dan kerabat yang tinggal di sana.  Saking sulitnya air,  maka mbah saya membuat bak besar di pinggir rumah untuk tempat menampung air hujan.

Dita Siska Millenia, nama yang kekinian, mungkin terselip doa dari orang tua bahwa anaknya akan menjadi remaja milenial yang pintar, berprestasi,  dan tentunya menjadi kebanggaan orang tua.

Dari cerita kawan yang menemui langsung orang tua Dita,  mereka sangat masygul dengan penangkapan Dita oleh Densus 88 dan tidak menyangka anaknya terlibat dalam jaringan radikal,  padahal orang tuanya berharap di pondok pesantren Dita akan  mendapatkan ilmu agama yang baik dan terhindar dari pengaruh negatif yang selama ini dialami anak-anak remaja seperti narkoba dan pergaulan bebas.

Saya menghela napas panjang. Kota kelahiran saya,  Temanggung,  adalah kota kecil di Jawa Tengah di mana berdiri kokoh Gunung Sumbing dan Sindoro.  Kota kecil ini adalah paradoks. Sudah tercatat bagaimana aksi aksi teroris dan gerakan radikal yang tumbuh. Sementara di sisi lain,  kota ini juga tercatat sebagai kota di Jawa Tengah yang tinggi tingkat pengidap HIV dan pemakai narkoba.  Di sini,  saya sudah tidak bisa melihat Temanggung secara naif sebagai kota dengan penuh kenangan nostalgia indah,  yang berhawa adem,  dan cocok untuk tetirah.  Kota ini adalah sebuah paradoks yang seharusnya menjadi PR bersama pemerintah dan semua lapisan masyarakat.

Memasukkan anak ke pesantren seperti yang dilakukan oleh orang tua Dita malah berujung pada terjangkitinya virus radikalisme.  Maaf bukan berarti ini sebuah generalisasi bahwa memasukkan anak di pesantren itu tidak bagus.  Dita mungkin sedang apes saja,  usianya yang belia dengan mudah dimasuki racun jahat radikal.  Saya lihat wajahnya ketika ditangkap tampak nanar dan mengisyaratkan kebencian,  beda jauh dengan fotonya di ktp.

Saya pun kilas balik pada tahun 1995 ketika masa kuliah.  Sebagai gadis lugu (ehm) dari kota kecil kemudian kuliah di UI,  di jurusan yang mentereng, wangi penuh gemerlap, tentu saja saya mengalami fase gegar budaya.  Duluuu,  mendengar kata ‘Elo” dan ‘Gue’ itu terasa bergetar gimana gitu,   maklum istilah itu dulu hanya ditemui dan didengar di layar kaca. Apalagi lihat lifestyle para mahasiswanya.  Para artis kemerlop bersliweran, bahkan teman kos sekarang menjadi penyanyi kenaman (dadah dadah ke Rossa, yang dulu dengan baik hati suka nawarin tumpangan mobilnya untuk berangkat ke kampus, tetapi karena gengsi saya tolak he he).

Pada fase gegar budaya itulah,  saya diajak teman untuk ikut pengajian. “Yuk ngaji bareng,  kajiannya asyik. ” Dan dibawalah saya ke sebuah rumah di bilangan Pondok Gede. Di sana sudah berkumpul beberapa orang. Karena saya berstatus tercyduk baru,  langsung diperkenalkan pada ketuanya,  seorang laki-laki berbadan kecil yang usianya mungkin awal 30 tahunan. Saya berharap akan ada belajar membaca Al Quran, atau tausiyah seperti pengajian pada umumnya.  Ternyata langsung pada bahasan tentang pentingnya penegakan syariat dengan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).  ‘Ayat-ayat pedang’ dibuka dan diterapkan metode cocoklogi dengan situasi Indonesia saat itu.  Saya masih diam saja sembari masih berpikir keras ini pengajian model apa sih.

Beberapa kali saya datang ke pengajian,  pembahasan semakin intens dan tiba saatnya berbaiat. Di situ saya baru tahu teman teman di situ yang selama ini saya kenal,  ternyata memakai nama alias semua.  Asli disitu saya langsung merasa ketakutan dan was was.  Saya merasa ditengah sarang penyamun. Yang lucunya ketika pembahasan konsep negara Islam menggebu-gebu,  justru ketika tiba adzan,  mereka masih santai-santai saja dan tidak menyegerakan sholat. Disitu radar was was saya semakin menguat.

Ketika tiba saat berbaiat,  saya bilang akan pikir pikir dulu.  Melihat saya ragu,  saya sampai dipanggil khusus sama ketuanya untuk diyakinkan.  Bla bla bla doktrin dimasukkan,  termasuk kewajiban membayar pajak karena ketika berbaiat berarti pindah warga negara dari Indonesia ke NII.

Singkat cerita saya menolak dengan halus dan mulai menjauh. Ketakutan terbesar saya saat itu adalah mereka akan terus mengikuti,  karena sudah tahu kos kosan saya. Syukur Alhamduliah semuanya tidak terjadi.

Beberapa tahun kemudian ketika terjadi ledakan bom,  kelompok itu dikabarkan terkait.  Entah gimana dengan nasib kawan kawan saya yang tergabung.  Kabarnya sih ada yang sudah pada mengundurkan diri.

Melihat pola-pola gerakan radikalisme yang sekarang semakin marak,  saya kembali merasa bersyukur,  waktu itu di saat usia belia,  saya bisa terhindar.  Ini semua tidak lepas dari kultur plural yang saya kecap semasa kecil,  juga kecenderungan saya suka baca,  jadi saat proses doktrinisasi,  dengan mudah ada beberapa hal yang nggak logis bisa dipatahkan.

Menjadi orang tua jaman sekarang memang harus benar-benar super hati-hati. Ketika bahaya pornografi,  seks bebas, kecanduan gadget,  dan faham radikalisme berkelindan, siap memangsa anak-anak kita. Sebagai orang tua mesti upgrade dengan belajar dan belajar. Lelah memang, tetapi mau tidak mau harus dijalankan. Melek teknologi, mempelajari geo politik, mempunyai referensi sebanyak mungkin terkait banyak hal, mengenalkan anak-anaknya pada keberagaman. Selain dikenalkan dengan ajaran agama, jangan alergi untuk mengenalkan seni, entah sastra, lukis, tari,musik. Seni bisa melembutkan jiwa.

Khusus pada kasus Dita Siska Milenia (DSM), anak ini masih belia, perjalanannya masih panjang. Belum terlambat untuk dirangkul dan diberikan pemahaman lagi. Di Temanggung banyak orang-orang keren juga komunitas sastra yang bisa mengajak remaja seperti dia untuk bisa berlatih mengekspresikan diri. Jadi energi kebenciannya bisa dialihkan.

Dulu ketika saya dan kawan-kawan mengadakan kegiatan ‘Jagongan Sastra Gunung,’ acara literasi di lereng Sindoro, saya sempat ajak anak-anak desa untuk mengobrol. Mereka terbuka pikirannya dan tertarik untuk mengembanglan potensi wisata di desanya. Ketika saya singgung soal radikalisme, mereka dengan tegas menolak ajaran itu, bahkan membuat spanduk besar yang intinya desanya menolak paham radikalisme.

Organisasi keagamaan yang berbasis kultural seperti NU yang saya tahu punya pentolan anak-anak muda yang berpikiran terbuka dan progresif , saya rasa bisa bergerak untuk lebih aktif lagi.

Terorisme tidak lahir di ruang hampa. Dia tumbuh dalam budaya intoleransi yang terus didengungkan baik di dunia maya maupun nyata. Jangan ada Dita-Dita yang lain, baik Dita di Surabaya maupun Dita di Temanggung. Mari rangkul bersama. Kita sebarkan cinta bukan teror.

 

Sumber foto : pixabay

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *