Menjadi Ibu Secara Spiritual

Melepas anak wedhok berangkat sekolah kemarin. Setelah cium tangan, dia berbisik, “Ma, doain adek ya biar bisa”.

Ya minggu ini sekolahnya sedang ujian tengah semester. Sebenarnya sudah hal biasa kalau dia minta didoakan menjelang ujian. Tetapi entah mungkin perasaan saya yang sedang melankolis, permintaan sederhananya itu terasa spesial dan membuat hangat di dada.

Meminta doa pada orang tua, terutama ibu sudah menjadi tradisi saya sejak masih kecil. Sampai sekarang sebelum pergi ke manapun, selalu tak lupa cium tangan, cium pipi kiri kanan, sembari berbisik minta doa. Rasanya kurang afdol kalau tidak melakukan. Dan sekarang tradisi ini turun pada generasi selanjutnya. Anak saya pun melakukan hal yang sama.

Tiba-tiba saya tersadar bahwa peran ibu secara spiritual itu memegang peranan penting. Seorang ibu itu harus memakai bahasa cinta dalam sehari-hari, kata kakak senior saya, Mbak Septriana. Sedangkan Kak Acun, yang sering memberikan materi parenting mengatakan lebih dasyat lagi, bahasa ibu itu semestinya memakai bahasa surga. Artinya, seorang ibu itu harus hati hati dalam memilih kata dan sikap, karena akan tervibrasi langsung ke anak. Pendek kata harus bijak memilih kata.

Dan seketika tanggung jawab itu terasa berat dipundak, karena saya menyadari, saya masih jauh dari kualitas seorang ibu ideal, apalagi menjadi ibu secara spiritual. Tidak perlu jauh mengambil perbandingan. Ibu saya saja contohnya. Maqom saya masih jauh dengan beliau sebagai sosok yang kuat ditempa tirakat.

Saya teringat dulu saat masih kecil, mungkin umur 10 tahun, tiba-tiba terbangun di tengah malam, dan melihat ibu saya menggelar sajadah di samping tempat tidur. Posisi kedua tangan tengadah, dengan tasbih teruntai di jari, mulutnya bergerak, dan mata berurai air mata. Tidak lama saya tertidur lagi. Tidur nyenyak yang lama mungkin karena sampai bermimpi. Kemudian saya terbangun lagi dan membuka mata. Melihat ibu saya masih berada di posisi yang sama. Itu pengalaman yang sangat mengesankan dan terpatri hingga sekarang.

Menjadi ibu tidak cukup hanya mempersiapkan kebutuhan materi untuk anak-anaknya. Cukup makan, cukup berpakaian, cukup sekolahnya. Tetapi tidak kalah penting adalah kebutuhan secara spirit. Sudah bukan rahasia bagaimana anak sukses karena seorang ibu yang tidak pernah lepas mendoakan, bertirakat tanpa kenal lelah.

Saya melihat bagaimana Allah sudah mengatur semesta sebegitu indahnya, dari siklus hubungan ibu dan perempuan. Seorang ibu ditempa untuk matang secara spirit sehinggga bisa mengantar anaknya dalam gerbang kehidupan, kemudian legacy itu berlanjut terus pada anaknya, demikian seterusnya. Jadi dalam bahasa sederhananya, kebaikan yang didapat oleh anak adalah kebaikan yang sebelumnya diupayakan oleh ibunya.

Saya masih tertatih untuk bisa berikhtiar mendekati apa yang ibu saya sudah lakukan sejak menyandang status sebagai ibu. Masih jauh panggang dari api. Tetapi minimal berusaha. Apalagi ketika anak kita sudah berbisik untuk meminta doa dari kita. Setidaknya saya harus memaknai lagi peran ibu secara spirit. Tidak sekedar doa yang terucap di bibir sebagai rapalan manis. Tetapi mantheng batin. Sehingga ketika doa dilangitkan, terhubung langsung kepada Sang Pemilik Semesta.

 

#menjadiibu

#ibuspiritual

#selamathariperempuan (belum telat)

Share this :

4 comments

  1. Baca ini jadi ingat anak saya Mbak…Yang besar selalu bilang begitu, “doain aku ya Bu..” Terus adiknya jadi ikutan juga ..
    Rasanya memang mak nyesss..Padahal tanpa diminta kita pun sudah mendoakan mereka ya..
    Tapi kalau diminta secara istimewa begitu rasanya kok ya beda..:)

  2. Jadi ingat (almh) Ibu, dulu kepala sekolah SD saya selalu bilang bahwa Ibu selalu mendoakan saya lewat puasa dan sujudnya. Ah…mungkin besok saya akan merasakan hal serupa dengan mbak Sundari

    1. Salam kenal Mbak Wida,
      Makasih sudah mampir.

      Menjalani peran ibu memang luar biasa. Semoga Ibunda almarhum dilapangkan dan surga sebagai ganjarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *