Film Review : The Greatest Showman (2018)

Teringat beberapa tahun silam ketika mengadakan acara peluncuran album religi. Saya duduk di sebelah musisi kawakan Gito Rollies yang saat itu duduk di atas kursi roda. Dirongrong kanker, tidak menghilangkan sikap humorisnya. Setiap orang yang menyapa disambutnya dengan senyum lebar. Bahkan sempat bercanda, “Mbak, orang tua ini bolehlah minta teh panas,” katanya sambil terkekeh. “Ok siap mas !”. Segera saya melampai ke pelayan cafe untuk pesan.

Sembari menunggu, saya sempat mengobrol sejenak, mengutarakan mengenai kutipan dari beliau yang pernah saya baca entah di mana. Intinya kurang lebih, panggung hiburan itu memabukkan. Saat di panggung, di puncak kepopuleran, kita seolah  jadi makhluk super. Orang nurut saja dengan apa yang kita perintahkan. Minta tepuk tangan, nyanyi bersama. Padahal panggung itu jebakan.

Acara dimulai. Gito Rollies  pun dipanggil ke panggung. Karena panggung terlalu tinggi dan tidak memungkinkan membawa naik kursi rodanya, akhirnya hanya duduk di depan panggung. Kilatan lampu blitz dan sorot kamera pun serentak menghujaninya. Dia hanya duduk tenang, dengan senyum yang tidak lepas. Kemudian dia meminta media untuk memberikan perhatian pada anak-anak muda di sebelahnya. Band yang sedang di puncak kepopuleran dengan lagu hitnya meledak. Ketika lampu blitz kini beralih ke anak-anak muda itu, dia masih duduk dengan khidmat, dan sekali lagi tetap tersenyum. Saya mengamati dari pinggir. “Gito Rollies sudah selesai dengan dirinya. Ada dan tidak ada lampu blitz, dia tetap tersenyum.”

Lantas apa hubungannya antara Gito Rollies dengan film The Greatest Showman ? Ketika film usai, sembari masih menatap layar, entah kenapa  ingatan saya mendadak meluncur pada peristiwa peluncuran album religi itu. Film yang ditutup dengan Barnum memberikan tongkat estafet kepemimpinan “Barney & Bailey Circus” kepada Phillip Carlyle itulah yang mengingatkan saya pada almarhum Gito Rollies.

Seperti yang diceritakan di film, panggung hiburan selalu menawarkan harapan dan impian kepada siapa saja. Bermimpi, mewujudkan, ada yang sukses, tidak sedikit yang gagal, bergelimang harta di puncak popularitas, bertahan sesaat, kadang hancur karena kepopuleran, meredup kemudian tergantikan oleh yang lain. Demikian siklusnya. Dan belakangan siklusnya berlangsung lebih cepat dari tahun-tahun silam.

Terinspirasi oleh Phineas Taylor Barnum, seorang pebisnis di dunia hiburan Amerika pada tahun kurun waktu tahun 1800-an, The Greatest Showman menceritakan tentang lahirnya bisnis hiburan dan mewujudkan impian dari nol menjadi sesuatu yang kepopulerannya mendunia. Meskipun dari segi cerita menurut saya tidak sekuat La La Land, namun sebagai drama musikal, nyanyian dan tarian yang ditampilkan secara grande dan berwarna warni menjadi hiburan yang membuat penonton bahagia.  Hugh Jackman sebagai tokoh sentral yang memerankan Barnum, sukses memberikan energi positif di film ini. Sorry Zac Efron, meski kamu muda dan ganteng, tetapi tidak membuat saya terkesan he he. Ini film memang untuk Hugh Jackman. Bahkan Michelle Williams pun sekedar menjadi pemanis.

Musik yang menjadi andalan film ini berkat kerja sama brilian duo musisi Benj Pasek dan Justin Paul. Setelah tahun lalu sukses meraih Golden Globe Award untuk Best Original Song di  La La Land (City Of Stars), kini penghargaan yang sama juga diterima untuk lagu berjudul “This Is Me.” Lagu ini konon dibuat saat-saat terakhir penggarapan film dan awalnya Keala Settle yang berperan sebagai si perempuan berjenggot tidak pede menyanyikannya.

Memang tidak salah jika lagu ini diganjar penghargaan. Musiknya yang grande dan liriknya yang kuat, menjadi anthem yang langsung nempel di kuping. Rasanya setiap orang akan relate dengan lagu ini. Siapa sih yang dalam masa hidupnya tidak pernah mengalami masa-masa kepahitan. Setiap orang pasti mempunyai ‘luka’ yang akan selalu diingat sampai kapanpun. Luka yang kadang membuat kehilangan kepercayaan diri. Ah rasanya lagu ini perlu banyak disimak oleh banyak orang.

Film usai, saya otomatis memberikan applaus, sembari celingak celinguk ternyata,ups yang tepuk tangan cuma sedikit. Sebagian besar penonton sudah meninggalkan studio, saya masih setia duduk sambil melihat kredit filmnya.

4 dari 5 Bintang untuk film The Greatest Showman.

Lihat video saat workshop ini, ga berasa air mata meleleh.So powerful and uplifting ! Apalagi saat Keala bergandengan tangan dengan Hugh Jackman. Duh emosional banget.

I am not a stranger to the dark
Hide away, they say
‘Cause we don’t want your broken parts

I’ve learned to be ashamed of all my scars
Run away, they say
No one’ll love you as you are

But I won’t let them break me down to dust
I know that there’s a place for us
For we are glorious

When the sharpest words wanna cut me down
I’m gonna send a flood, gonna drown them out

I am brave, I am bruised
I am who I’m meant to be, this is me
Look out ’cause here I come

And I’m marching on to the beat I drum
I’m not scared to be seen
I make no apologies, this is me

Another round of bullets hits my skin
Well, fire away ’cause today, I won’t let the shame sink in
We are bursting through the barricades
And reaching for the sun (we are warriors)
Yeah, that’s what we’ve become

Won’t let them break me down to dust
I know that there’s a place for us
For we are glorious

When the sharpest words wanna cut me down
Gonna send a flood, gonna drown them out
I am brave, I am bruised
I am who I’m meant to be, this is me
Look out ’cause here I come
And I’m marching on to the beat I drum

I’m not scared to be seen

I make no apologies, this is me

 

 

 

 

 

 

 

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *