Film Review : Susah Sinyal (2017)

Benar seperti yang ditulis harian KOMPAS kalau Ernest Prakasa saat ini dalam fase purnama. Artinya karirnya sedang bulet-buletnya, terang benderang bersinar. Sebagai kawan yang dulu pernah sekantor dan kerja satu tim, senang ketika melihat perjalanan karirnya yang sukses saat ini. Menjadi komika, hingga sekarang menjadi pemain film, sutradara dan screenwriter.  Kunci yang dia selalu pegang adalah, tidak mau terjebak dalam zona nyaman. Dan itu memang benar adanya. Nggak kebayang kalau dia tidak menantang zona nyaman, mungkin sekarang dia masih terjebak dalam kubikel melakoni profesi sebagai orang label ha ha ha.

Dulu inget saat ketemuan dan ngobrol di Pantai Double Six, saat dia baru pindah ke Bali dan merintis jalan sebagai komika. “Nest, yakin kamu keluar kerja kantoran, dan milih jalan jadi komika?” tanya saya.

“Yakin lah mbak. Yang penting dijalani dengan niat. Toh masih muda ini. Kalau nggak berhasil, masak iya sih aku nyodorin CV ke label (perusahaan rekaman), nggak ada yang nyolek,” katanya santai.

Dan pilihannya memang tidak salah. Ernest banting setir profesi disaat yang tepat. Ketika era digital booming, dan Youtube dan sosial media menjadi alat yang tepat untuk mendongkrak karir di industri kreatif.

Setelah film debutnya “Ngenest”(2015) yang sukses, disusul dengan karya yang lebih matang dalam film “Cek Toko Sebelah,” (2016) kini muncul film ketiganya “Susah Sinyal”(2017).  Dan ini review saya tentang Susah Sinyal.

Secara ingredients, film Susah Sinyal ini tidak jauh-jauh dari film Cek Toko Sebelah (CTS). Mengambil genre komedi dan drama. Bahkan para pemainnya pun hampir semuanya adalah boyongan dari film CTS.  Film ini berkisah tentang seorang wanita bernama Ellen (Adinia Wirasti), seorang pengacara sukses. Kesibukan membuat dirinya yang berstatus sebagai single parent susah untuk meluangkan waktu bersama anak semata wayangnya, Kiara (Aurora Ribero). Beruntung ada Agatha (Niniek L. Karim), ibu Ellen yang memberikan kasih sayang dan perhatian sepenuhnya pada Kiara. Konflik terjadi ketika Agatha meninggal karena serangan jantung dan peran Ellen sebagai ibu pun dipertaruhkan. Hubungan ibu dan anak itu pun masuk dalam situasi roller coaster. Ellen yang butuh full konsentrasi untuk law firm barunya, sementara   Kiara yang dalam masa rentan gejolak remaja, dan sedang menghadapi konflik terkait cita-citanya menjadi penyanyi. Beruntung Ellen mempunyai partner kerja Iwan (Ernest Prakarsa) yang bisa diandalkan, sehingga Ellen bisa leluasa untuk rehat sejenak dari kerja demi meluangkan waktu buat Kiara. Untuk merekatkan hubungan, ibu dan anak itu pun sepakat untuk liburan, dan Sumba menjadi pilihan.

Alih-alih akrab, berada di daerah yang terpencil dan susah sinyal, awalnya membuat hubungan mereka malah berantakan, tetapi kemudian hubungan berangsur membaik dan mereka bisa menikmati quality time bersama.  Mereka kembali ke Jakarta dengan  janji Ellen kepada Kiara untuk menemaninya saat mengikuti audisi menyanyi. Konflik selanjutnya bisa ditebak. Ellen terlalu sibuk mengurusi persidangan kasus kliennya, sehingga lupa untuk datang ke acara audisi. Kiara yang kecewa membuat audisinya berantakan, dan dia pun kabur dari rumah.

Dari segi tema, film ini menarik. Hubungan orang tua (lebih khususnya ibu) dan anak akan teruji ketika anak masuk dalam fase remaja. Ini adalah fase pemberontakan, saat anak sedang bete-betenya dengan sikap orang tua. Sementara ortu merasa sikap anaknya pun sedang masa nyebel-nyebelinnnya. Sebagai ibu yang punya anak remaja yang fase sulit ini, film ini sangat relate. Saya bisa merasakan bagaimana penolakan Kiara kepada Ellen. Di sini Adinia Wirasti memerankannya dengan baik. Peran sebagai ibu pas. Sementara Aurora Ribero sebagai bintang pendatang baru pun berakting dengan bagus. Masih muda, bertalenta, pintar nyanyi, rasanya Aurora ini bakal semakin bersinar bintangnya.

love-hate relationship between mother and daughter

TOO MUCH COMEDY

Sebagai film bergenre komedi, wajar jika film Susah Sinyal ini bertabur para komik dan sarat dengan joke-joke recehan. Sekali para komik itu mangap, dijamin para penonton terpingkal. Cuma saya merasa komedi dalam film ini kebanyakan sehingga menjadi sub plot yang mengaburkan main plot sendiri. Kehadiran Dodit Mulyanto dan Aci Resti cukup mewakili untuk membuat renyah suasana.

Pakai baju ijo di tengah kebon, emang situ ABRI ? 

Itu adalah contoh joke receh yang bikin penonton gerr.

Atau sentilan tentang ‘bumi datar’ juga sanggup membuat penonton terpingkal.

Munculnya duo Arie Kriting dan Abdurrahim Arsyad sebagai dua komika yang sukses mengocok perut. Ditambah lagi Asri Welas yang juga tak kalah kocaknya.

Kehadiran mereka itu sudah lebih dari cukup. Sayang film ini mengobral lebih banyak komedi. Hadirnya Chew Kin Wah yang sangat cemerlang bermain sebagai Koh Afuk dalam film CTS, di film ini malah diturunkan derajatnya menjadi bintang figuran yang tidak jelas perannya kecuali lewat suguhan komedi yang garing. GePamungkas juga sebelas dua belas. Mereka hadir tanpa fungsi memberikan elemen pendukung pada main plot ataupun main character, sehingga kesannya sekedar tempelan saja buat ketawa. Singkatnya banyaknya komedi malah menjadi distraksi pada cerita utamanya sendiri.

BACA JUGA : REVIEW FILM AYAT AYAT CINTA 2 (2017)

Set Up The Conflict Early And Make The Conflict Bigger

Konflik dalam sebuah cerita itu adalah perekat yang krusial. Tanpa konflik yang berarti, sebuah cerita hanya akan menjadi cerita membosankan. Menghadirkan konflik sedini mungkin cukup ampuh membuat penonton untuk engaged dan punya clue film ini akan seperti apa. Di film Susah Sinyal, konflik yang utama adalah soal hubungan ibu dan anak. Konflik baru terbentuk ketika ibunya Ellen meninggal, setelah melalui introduction cukup panjang. Akan lebih efektif jika dipangkas dan muncul konflik sejak dari awal.

Kiara yang menyukai staf hotel bernama Abe (Refal Hady), saat pandangan pertama di Sumba, sebenarnya bisa diolah dan diescalate menjadi konflik yang membesar dan pecah. Refal Hady bermain bagus di film ini (lebih berkarakter dibandingkan menjadi Galih dalam film Galih dan Ratna). Sayang sosoknya numpang lewat saja. Alangkah lebih baik jika durasi waktu bisa didedikasikan buat mengolah konflik Kiara + Abe vs Ellen. Kita tahu bahwa anak remaja yang sedang sebel-sebelnya sama orang tuanya sendiri, akan lebih relate jika ketemu dengan teman sebaya atau yang dia anggap asyik. Hubungan Abe dan Kiara yang nanggung, bisa di eksplore lagi, menjadi konflik besar. Daripada durasi diberikan pada guyonan tidak jelas si Chew Kin Wah dan Ge Pamungkas.

Hal lain yang bisa dieksplore adalah hubungan antara Ellen dan Aji (Darius Sinathrya). Hubungan mereka bisa di elaborate untuk mematangkan konflik antara ibu dan anak, jadi bukan sekedar tempelan. Saya sempat berpikir karakter Aji ini memang sengaja diangkat tipis-tipis, karena ujungnya Ellen ini akan jadian sama Iwan he he.

Beruntung hook nya didapat ketika konflik mencapai puncak yaitu Ellen yang menyusul Kiara yang kabur ke Sumba. Di sana dialog-dialog antara ibu dan anak ini patut menjadi acungan jempol. Sehingga mencapai resolusi antara keduanya.  Proficiat buat Ernest yang bisa mengolah dialog yang cakep, sanggup untuk membuat jleb penonton. Eh selamat juga buat Meira (istri Ernest) yang menurut kabar yang saya baca, turut berperan dalam penggarapan skenarionya.

Secara garis besar film Susah Sinyal ini menjadi film drama komedi yang cakep untuk menutup akhir tahun 2017. Soundtrack film ini juga tak kalah cakepnya. TheOvertunes masih menjadi langganan mengisi soundtrack. Ada juga lagu dari Rendy Pandugo, Ardhito Pramono, Marco Marche dan bintang utamanya sendiri, Aurora Ribero.

Saya percaya film yang digarap dengan skenario yang mantap,karakter yang matang, bisa menghasilkan film yang bermutu. Jadi film tidak melulu modal mengambil seting mewah di luar negeri, tetapi miskin plot dan karakter yang reliable.

Selamat  Ernest !  Ditunggu karya-karya berikutnya.

Untuk film Susah Sinyal, saya memberikan 4 dari 5 bintang. (sst…. karena bintang lima itu artinya sempurna, dan kesempurnaan hanya milik Allah).

 

Share this :

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *