Sepotong Cerita Di Hari Ibu

sumber foto : pixabay

Kami duduk leyeh-leyeh berdua. Rumah sepi. Anak-anak sekolah.  Televisi menyala tanpa ditonton. Suara-suara riuh rendah dari layar TV yang menayangkan  sinetron.  Sesekali muka pemain di zoom in zoom out.  Entah cerita apa,  aku tidak tertarik menyimak,  pun tidak kuasa untuk meraih remote control untuk mematikan.  Dalam tubuh penat,  aku nyaris tenggelam dalam sofa.  Rambut basah selesai keramas kubiarkan tergerai membasahi bantal.  Semilir angin yang masuk dari ruang belakang membuat mataku semakin terasa berat.

“Aku kangen…. ” suara itu tiba-tiba menyeruak di tengah riuh rendah teriakan pemain sinetron.

Kupandangi wajah di sebelahku. Nyaris tidak percaya.

“Kangen sama aku? ”

Wajah teduh itu mengangguk.  Kantukku hilang seketika.

“Kamu kalau pergi lama-lama rumah sepi. Ngelangut,” katanya lagi.

Aah betapa kata kangen itu menjadi sesuatu yang sangat berharga.  Kami bukan tipikal makhluk ekspresif yang bisa mengartikulasikan perasaan dengan gamblang.

Lho ternyata aku dikangenin.  

Ada rasa aneh yang menyeruak,  membawa perasaan hangat,  dan mata pun mendadak terasa hangat.  Semalam aku baru pulang dari luar kota.  5 hari kutinggalkan rumah.  Ada urusan pekerjaan di Yogyakarta,  lanjut nambah 2 hari untuk pulang kampung.  Penatku belum hilang.  Koperku masih teronggok di lantai. 5 hari cukup membuatku merasa dikangeni oleh wajah teduh di sampingku.  Sebelumnya,  aku bisa meninggalkan rumah lebih dari lima hari karena tugas.  Tetapi tidak pernah dikangenin.  Hmm ini sebuah penemuan yang luar biasa.

Kemudian aku terpekur sejenak. Hampir tiga bulan aku di rumah sejak tidak bekerja lagi secara fulltime.  Setelah melepas suami berangkat kerja,  anak anak sekolah,  tinggalah kami berdua.  Kemudian kita akan mengobrol banyak hal.  Mulai dari soal mau masak apa,  berita hangat di TV,  bahas curhatan jamaah Mamah Dedeh di TV.  Juga keluhan nyeri di lutut dan punggungnya.  Berapa stock obat yang masih ada dan harus dibeli lagi.

Kadang kami flashback,  mengingat cerita saat aku dan kakak adik masih kecil.  Masa susah ketika banyak cobaan-cobaan menghantam,  saat membesarkan kami yang masih kecil dan sedang nakal-nakalnya.

Kadang kami tertawa mengingat cerita saat dia masih kanak-kanak dulu.  Cerita yang sama dan  sudah diulang berkali-kali,  tapi aku berusaha untuk terus menyimak dengan penuh minat.  Dulu saat dia masih bocah,  main di kuburan dekat kali.  Kemudian menemukan gigi palsu berlapis emas. Rupanya ada kuburan yang longsor, dan tulang belulang hanyut ke sungai,  termasuk gigi palsu si ahli kubur.  Gigi itu dipakai dengan gembira dan diperlihatkan ke emaknya,  yang berujung dapat lemparan sapu.

Bernasib yatim piatu sejak kecil membuatnya harus mengasuh adiknya. Ke manapun dia pergi,  adiknya selalu dalam gendongannya.  Ketika suatu hari ada yang mengganggunya,  seorang anak laki laki sebayanya, dia tidak gentar melawan. Caranya menunggu waktu yang tepat,  yaitu adiknya sudah tidur dibawa pulang,  kemudian dia balik lagi menemui bocah laki laki itu untuk diajak duel.

Oya ada satu kisah yang tiap kali diceritakan,  kami akan tergelak bersama. Tentang duelnya dengan anak laki-laki yang orang tuanya jualan gerabah.  Tidak cukup lawannya dibuatnya bertekuk lutut,  tetapi gerabah orang tuanya yang ada di samping rumah dia pecahin semua.  Walhasil dia mendapatkan hukuman sabetan dari uwaknya,  yang menjadi orang tua pengganti.

Oya dia anak yang pintar.  Sepulang dari sekolah pipi kiri dan kanannya akan dipenuhi angka 100, hasil tempelan sabak.  Sayang nasib berkata lain,  hidup jadi yatim piatu membuatnya harus bekerja keras dan meninggalkan bangku sekolah.  Sempat mau menjadi anak angkat seorang diplomat.  Dia menolak.  Aduh duh,  untung nggak jadi.  Kalau iya,  nasib bisa berkata lain dan belum tentu aku lahir di dunia dari rahimnya.

Kalau sudah cerita tentang bapaknya,  akan menjadi sebuah drama tersendiri.  Ingatan lamur akan ayahnya,  yang dia dapat dari saudaranya akan diceritakan lagi dengan segenap perasaan.  Ceritanya selalu hidup,  padahal dia hanya mendapatkan sepotong cerita itu dari orang-orang disekitarnya. Usianya belum genap tiga tahun ketika ditinggal mati bapakmya.  Ini episode yang paling menggetarkan dalam hidupnya,  hingga aku perlu mendokumentasikan sepotong hidupnya ini dalam sebuah novel yang kutulis. Genduk,  judulnya.

Itu sebagian cerita saja.  Selebihnya banyak cerita juga yang tak terhitung sudah diulang beberapa kali.  Kadang aku dilanda kebosanan.  Disaat dia cerita,  tanganku akan gatal meraih telpon pintar. Kehebohan di media sosial lebih menarikku.  Atau cerita-cerita yang bersliweran di grup WA lebih membuatku terbahak.  Hingga kemudian aku tersadar,  cerita dia tentang masa kanaknya belum selesai.

Nonton Film 3 Dara berdua. Momen spesial.

Tiga bulan di rumah ternyata memberikan waktu buat kami untuk bisa bercakap dengan leluasa.  Tidak kubayangkan bagaimana sepinya tiap hari ketika kami harus meninggalkan rumah karena sibuk sekolah dan bekerja.

Jadwalnya tidak pernah meleset.  Jam 2 pagi akan bangun untuk sholat tahajud sampai jam 3. Setelah tidur barang 30 menit,  kemudian akan berjibaku di dapur untuk memasak. Selesai sholat Subuh, akan istirahat untuk menunggu sampai Dhuha datang. Sesekali diisi dengan nonton pengajian,  sinetron,  atau pergi ke warung sayur.  Sore selepas Ashar,  biasanya akan sibuk lagi di dapur,  menyiapkan bumbu-bumbu dan bahan masakan yang akan diolah keesokan harinya.  Demikian seterusnya.

Waktu antara Dhuha hingga Dzuhur itulah yang kini kami isi berdua untuk berbagi cerita.  Cerita hal baru,  atau cerita lama yang direwind lagi dan lagi.  Maka ketika ada jeda karena aku tinggal ke luar kota,  dia merasa kesepian dan kangen.

“Pengen pergi ke mana sih? ” pancingku ketika aku melihat gelagat dia agak dilanda bosan.  Ah sebenarnya dia tidak bosan.  Lebih tepatnya tidak punya keinginan apa -apa.

Kemudian meluncur cerita ingin naik kapal, ingin mengulang dulu waktu masih kecil sempat merasakan naik kapal.  Ide ke Lampung sempat jadi wacana.. Tapi kemudian berpikir,  akan repot saat naik tangga kapal dengan lutut yang sudah rapuh.  Belakangan ingin ajak ke satu tempat yang tanpa pakai naik kapal atau pesawat,  eh tapi kondisi fisik membuatnya dia menolak.

“Aku lelah untuk ke mana-mana.  Ngobrol saja di sini (rumah) sudah cukup. “

Ah betapa permintaannya sungguh sangat sederhana.  Tetapi jujur bukan hal mudah untuk memenuhi keinginannya.  Dunia digital membuat semua orang asyik dengan dunianya sendiri.  Alpa melihat dan peka terhadap lingkungan, juga orang-orang terdekat yang mengasihi dan mengangeni setiap hari.  Saat kita sibuk dengan urusan like dan love di media sosial,  ada orang terdekat kita yang setiap saat bisa memberikan like dan love tanpa syarat.  We just take all of these for granted.  

Perempuan 3 generasi.

 

Saya percaya kemudahan dan apa yg saya capai hingga detik ini adalah hadiah dari Allah atas doa doa yang Ibu saya langitkan setiap saat. Ini menjadi legacy bagi saya, anak perempuan saya, dan generasi seterusnya.

Selamat kepada para Ibu dan semua perempuan di Indonesia. #HappyMother’sday 

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *