Review : Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata

Ketika Laskar Pelangi dulu booming, saya belum pernah melihat bagaimana sebuah buku bisa memberikan efek langsung pada pembacanya. Tidak sekedar menginspirasi, tetapi juga membuat orang melakukan tindakan yang nyata. Jujur saya mengakui Andrea Hirata adalah penulis yang menginspirasi saya untuk segera merealisasikan mimpi saya:  menerbitkan buku. Lewat Andrea Hirata, profesi penulis pun menjadi lebih moncer dan tidak dipandang sebelah mata.

Dengan tekun saya ikuti tiga buku pertamanya yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Buat saya tiga karya itulah masterpiece seorang Andrea Hirata, yang dulu sampai saya baca berkali-kali, dan selalu membuat saya tergelak hingga menitikkan airmata. Sampai kemudian pada karya keempat, Maryamah Karpov, di mana saya mulai terseok-seok membacanya, hingga ditutup tanpa berhasil diselesaikan.  Salah saya mungkin, karena saya terlalu menaruh harapan besar pada buku keempat itu, di mana semestinya mempunyai kekuatan seperti buku-buku sebelumnya.

Tahun 2010 terbit dua karya Andrea yaitu Cinta Di Dalam Gelas dan Padang Bulan. Waktu itu saya masih penasaran, dan rela minta kawan untuk membawakan ke Belanda karena waktu itu saya menetap sementara di sana.  Harapan membuncah ketika kiriman datang ternyata tidak sebanding dengan semangat saya untuk membacanya. Dua buku ini saya bolak balik dengan kelelahan tanpa berhasil saya tuntaskan. Andrea Hirata sepertinya sudah kekurangan ide segar dan cerita berputar-putar pada plot yang sama dengan gaya penulisan yang sama, plus humor yang itu –itu lagi. Sejak saat itu saya pun kapok untuk membaca karyanya lagi.

Review Buku Sirkus Pohon

Ada 3 buku Andrea lagi yang sengaja saya skip karena masih kapok, sampai kemudian saya menemukan novel barunya berjudul Sirkus Pohon. Awalnya saya skeptis. Promosi dari penerbit lumayan gencar (yah maklum namanya juga promoin penulis best seller). Membaca judul dan penampakan covernya menggelitik saya untuk membelinya. Kali ini saya sudah antisipasi, tidak mau berharap lebih, karena takut kuciwa. Akhirnya mulailah membaca tanpa ekspetasi apapun novel setebal 381 halaman itu.

Ceritanya masih seputar latar belakang budaya Melayu. Seperti judulnya, Andrea memilih diksi yang berjumpalitan ibarat para pemain sirkus, renyah, penuh jenaka dan satiris. Adalah Hobri, pemuda pengangguran miskin harapan yang masa depannya tak tentu arah. Dengan tamatan kelas 2 SMP, Hobri pastinya susah mencari pekerjaan yang layak, hingga nasib membawanya menjadi seorang badut sirkus.

Secara pararel novel ini juga membahas cerita yang lain yaitu kisah Tegar dan Tara, sepasang anak manusia yang jatuh cinta pada pandangan pertama ketika masih bocah, kemudian lenyap terpisahkan, hingga kemudian lewat plot yang rumit akhirnya mereka berdua bisa bertemu kembali.

Bagi saya pribadi, humor-humor satir yang disajikan di novel ini lumayan memberikan kesegaran, setidaknya membantu mengobati kekecewaan saya pada novel sebelumnya. Kata-katanya quotable, salah satunya seperti ini :

Mereka adalah para penakluk rasa sakit yang selalu dicekam hukum pertama bumi: gravitasi, selalu menjatuhkan! Namun, mereka memegang teguh hukum pertama manusia: elevasi, selalu bangkit kembali! (Sirkus Pohon, hlm. 72)

Menariknya adalah kisah cinta Tara dan Tegar. Ternyata sebuah kisah cinta, meski itu sebuah kisah cinta monyet, dan sehiperbol apapun mengemasnya, terbukti menjadi resep ampuh membuat pembaca penasaran. Apalagi diberikan bumbu-bumbu penuh halangan rintangan.  Ini mungkin faktor yang membuat saya betah bertahan meneruskan membacanya, dan menyelesaikannya hanya dalam waktu 3 hari.

Saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk novel Sirkus Pohon.

 

Share this :

2 comments

  1. Wah, bikin penasaran bukunya, Mbak. Kebetulan saya belum sempat beli nih. Mksh reviewnya😊

    Salam kenal, Mbak Sundari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *