REVIEW FILM AYAT AYAT CINTA2 : Surat Cinta Untuk Mas Fahri

Ini adalah sebuah review tentang Film Ayat Ayat Cinta 2 dengan rasa yang berbeda.

Assalamualaikum Mas Fahri,

Bagaimana kabarnya di Oxford ? Semoga baik-baik saja.

Bagaimana kabarnya Mbak Aisha / Hulya, eh  yang benar yang mana sih ?  Yang pasti Mas Fahri sekarang bahagia kan sudah mempunyai momongan.

Mz, eh mas… saya sudah menonton dirimu di Ayat Ayat Cinta 2, dan sukses telah membuat diriku terhanyut dalam rasa nano-nano, dari tertawa hingga menangis. Maklum kan Mas, perempuan paling lemah kalau sudah disentil secara mellow drama gitu.

Menonton film ini terselip kebanggaan di hati, ketika film dibuka dengan musik yang dramatis, dan jreng jreng ….. muncul nama yang sangat familiar “A Film By Guntur Soeharjanto.” Rasanya saya pengen teriak biar satu bioskop tahu bahwa itu kan karya teman saya, dan saya turut bangga banget jadi temannya. Apalagi dia menyutradarai film yang digadang-gadang menjadi box office.

Saya nggak jadi teriak karena segera teralihkan oleh efek CGI di awal film. Scene dramatis jalur Gaza yang dibombardir oleh tentara zionis Israel. Dan seorang wanita terjerembab ke tanah diantara puing-puing reruntuhan yang menghadirkan suasana teror. Dan sreseet… setting pun beralih ke Edinburgh, ibukota Skotlandia yang adem, indah, dengan bangunan kastil ikonik yang menjadi tujuan wisata turis. (Demi London, Edensor, dan Edinburgh suatu saat nanti saya bakal ke sana. *Tak lupa sambil tepuk bangku bioskop tiga kali).

Kemudian muncul dirimu Mz. Tampilanmu tidak banyak berubah dari 9 tahun lalu saat kamu muncul perdana di film Ayat Ayat Cinta. Fahri bin Abdullah Shiddiq (Fedi Nuril) yang kini sudah menjadi dosen di University of Edinburgh. Kalau boleh saya bilang kamu itu semacam Lelananging Jagad. Gimana ndak ?  Lha wong pintar, soleh, santun, kaya berkat usahamu membuka bisnis restoran, baju dan supermarket. Kamu adalah sumber pesona.  Magnet yang selalu membuat banyak perempuan tersedot, jatuh hati, dan pusing dibuatnya. Para perempuan berlomba menebarkan pesona namun sosokmu tetap (literally) untouchable. Jangankan tersenggol hatimu, tersenggol lenganmu pun dirimu akan hindari dengan santun. Iih pusing kan pala barbie.

Meski banyak perempuan cantik bersliweran termasuk Hulya (Tatjana Shapira), tetapi hatimu tetap dingin dan beku. Cintamu tak tergoyahkan hanya demi Aisha seorang, istri tercinta yang hilang tak tentu rimbanya di Jalur Gaza. Meski kamu tinggal di rumah megah, tetapi terlihat kehidupanmu garing. Beruntung ada Hulusi (Pandji Pragiwaksono), asisten merangkap sopir pribadinya dan Misbah ( Arie K Untung) kawan lamamu, yang membuat suasana lebih renyah.

Mas, saya tahu hidup di Edinburg itu tidak mudah. Sebagai warga pendatang dan beragama Islam, kamu otomatis berstatus dobel minoritas. Kota itu memang rada-rada xenophobia gitu. Dulu temenku juga sempat mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan, padahal dia Londoner loh. Tetapi dicap teroris kan nggak enak ya Mz. Apalagi sampai ada yang nyoret-nyoret mobilmu. Kalau saya jadi kamu, tetanggamu itu si nenek Catarina (Dewi Irawan) yang galak, ga bakalan deh kubantu. Atau si Keira (Chelsea Islan), amit amit deh nggak bakalan saya biayai kursus biolanya. Eh tapi Keira itu cantik lho. Galak tapi unch unch gimana gitu.  Mas Fahri yakin nggak tergoda sama dirinya ? Yakin Mz ? Ih kok beraninya cuma ngintip diam-diam dibalik gorden sih. Ayolah Mas Fahri itu agak berani sedikit gitu. Laki-laki dalam kehidupan nyata kan gak akan kaku dan reserved gitu aja kalau ada perempuan menarik di depannya. Atau kalau Hulya hampir tiap hari datang ke rumah, emang juga ga ser-ser-an ?  Saya gemes deh  dengan sikapmu Mas. Minimal kamu sama dua temen cowokmu itu kan bisa main kode-kodean gitu. Misalnya gini, “bro, pusthun di jam 3!”. “86 bro,”. Yah kode-kodean semacam itulah.

Eh saya lupa, kamu kan sosok yang memang diciptakan nyaris sempurna sejak kelahiranmu di novel. Jadi karena ini adalah film adaptasi dari novel, skripnya sepertinya tidak berani keluar dari pakem novel. Tapi harus diakui peranmu sebagai agen muslim yang baik, yang menebarkan citra Islam Rahmatan Lil’ Alamin, Islam yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, itu patut diacungin jempol. Demikian juga usaha untuk menjadikan dirimu role model muslim kelas wahid memang perlu diapresiasi. Paling tidak setelah menonton film ini, orang-orang tergerak untuk berbuat kebaikan terhadap sesama, tanpa memandang latar belakang agama atau suku. Asaal, jangan sampai adek-adek perempuan yang  terpikat kepadamu punya standar cari suami kaya dirimu. Susah mas. Rasanya sosokmu terlalu mengawang-awang. Terlalu too good to be true.

Being Moslem Ambassador.

Mas Fahri, jangan bosan baca surat saya yang super panjang ini ya.  Saya mau sampaikan hal yang serius nih. Gini ceritanya…. ehm *clearing throat

Hidup di tengah lingkungan islamophobia itu memang tidak mudah. Saya pernah punya kawan dari Amerika yang risih saat duduk bersebelahan dengan saya saat ambil kelas menulis dulu. Katanya, kamu tuh orang Islam pertama yang saya temui dalam kehidupan nyata. Orang Islam kan identik dengan teroris katanya sotoy. Saya bilang, “With my headcover, do I look like a killer or a terorist,” kata saya sambil tersenyum. Terus kita mengobrol  panjang. Dan bla-bla-bla deh kesempatan saya jelaskan sesuai yang saya pahami soal Islam sebagai agama yang damai. Beruntung si teman ini bisa mengerti.

Tetapi situasi Mas Fahri kan berbeda. Sudah dicap teroris, diperlakukan kasar, dan puncaknya ditantang untuk adu debat di acara “Oxford Union Debates.” Ini kan acara debat yang bikin merinding disko kalau tidak siap. Menghadapi orang-orang yang ignorant itu tidak cukup dengan bersandar pada argumen Islam itu agama damai dan bla bla bla. Susah untuk menyebutkan damai jika memang ada sekelompok orang yang mengaku Islam dan menyebutkan lafaz Allah, kemudian melakukan aksi terorisme. Sebagai dosen yang mumpuni, Mas Fahri pasti mempunyai akses luas untuk melakukan riset dalam persiapan debat. Yang suka teriak teroras teroris itu, sesekali harus dibungkam dengan senjata pamuncak. Tanyakan balik saja, bagaimana peran Mamarika dan sekutunya yang selalu terlibat di setiap kehancuran negara, terutama negara Islam. Mas Fahri pernah mendengar atau sekilas membaca buku Robert Dreyfuss berjudul, Devil’s Game: How the United States Helped Unleash Fundamentalist Islam. Itu buku ciamik yang membahas secara komprehensif bagaimana CIA merekrut, membiayai para jihadist / para Islam radical, yang digunakan sebagai senjata untuk memerangi komunisme, sebagai upaya terselebung saat perang dingin. Bagaimana jauh sebelum era perang dingin, ketika emas hitam (minyak) ditemukan di Semenanjung Arab, Amerika dan Saudi Arabia di tahun 1933 mempunyai kesepakatan bersama membentuk the Arabian-American Oil Company. Dan sejak itu pertumpahan darah atas nama agama terus berlangsung, padahal sejatinya adalah demi kepentingan ekonomi (minyak) dan kekuasaan semata.

Mas Fahri, bisa baca selengkapnya di sini :

Atau video pengakuan Hillary Clinton soal keterlibatan Amerika dalam membiayai Al Qaeda :


Jadi Islam radikal yang tumbuh subur saat ini, tidak lepas dari campur tangan para negara adikuasa untuk kepentingan mereka. Got it ?

Mas Fahri… saya rasa harus saya sudahi surat ini. Takut keburu bosen. Semoga Mas Fahri tetap sukses. Jangan lupa kalau pulang ke Indonesia adakan jumpa fans yah.

Wassalamualaikum Wr Wb,

Tertanda Hamba Allah.

 

CATATAN : REVIEW FILM AYAT AYAT CINTA 2 

  • Film Ayat Ayat Cinta 2 sebagai film romance drama berbalut seting religi ini patut ditonton sebagai hiburan. Mungkin buat sebagian orang juga buat pelajaran. Issue poligami nyaris bisa jadi wacana di film ini. Saya berharap dua orang perempuan karena keadaan, akan bisa hidup berdampingan, tentunya dengan perasaan yang pasti ada nggak enaknya. Ada pengorbanan dari semua pihak. Tetapi ini tidak terjadi. Film ini tentunya adalah hiburan yang mensyaratkan level kepuasaan penonton. Happy ending tujuannya. Dan maaf, poligami bukan selera masyarakat.
  • Film berbudget besar ini produksinya rapi. Mata dimanjakan pemandangan Edinburgh yang indah. Panjangnya durasi film tidak terasa, pacenya cepat, padat, sehingga penonton tidak terjebak dalam kebosanan. Selamat Pak Guntur !
  • Nama Fedi Nuril, Dewi Sandra, Chelsea Islan, dan Tatjana Saphira adalah bintang-bintang yang jadi jaminan untuk menyedot penonton. Saya pribadi menilai Fedi Nuril masih kurang ekspresif. Akting juara adalah Chelsea Islan. Perannya sebagai gadis penuh kepahitan dan main biola ok.
  • Make up effect Dewi Sandra bagus. Halus.
  • Color gradenya nyaman dilihat.
  • Pesan-pesan sponsor ditampilkan dengan halus.
  • Dukungan soundtracknya keren.
Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *