Sego Gono Makanan Khas Tempo Dulu Yang Selalu Ngangenin

Alkisah seorang teman saya memberikan ucapan selamat ultah minggu lalu sambil menyinggung soal Sego Megono. Entah kenapa saya jadi kepikiran alias kangen dengan makanan itu. Langsung deh pengen memasaknya. Jadi dilibur panjang ini kami serumah pun menikmati nasi tumpeng megono yang kepul-kepul hangat.

Bagi masyarakat Temanggung dan sekitarnya, Sego Megono atau singkatnya Sego Gono adalah warisan kuliner yang merupakan bagian tradisi budaya masyarakat. Makanan ini masuk dalam ritual saat kerja bakti bersih desa, upacara adat jelang tanam tembakau, atau sekedar syukuran wetonan (ulang tahun dengan perhitungan hari pasaran jawa).

Sego Gono terdiri dari nasi yang dimasak bersama dengan rupa-rupa sayuran seperti daun kacang alias mbayung, kubis hijau, kacang panjang, toge, kentang yang dipotong kotak-kotak kecil, teri jengki, petai (optional), kacang tholo. Bumbunya hampir seperti urap yaitu parutan kelapa muda yang diberi ramuan bawang merah, bawang putih, kencur, daun jeruk, daun salam, dan yang tak kalah penting adalah tambahan berupa tempe bosok (tempe mentah yang sengaja dibusukkan beberapa hari sampai menimbulkan aroma yang aduhai).

Berbeda dengan nasi kuning yang bisa diset dengan aneka lauk pauk yang mewah. Sego gono ini tampil bersahaja dengan cukup ditemani oleh tempe goreng, telur pindang rebus yang dipotong tipis-tipis, dan peyek teri jika ada. Namun soal rasa, menurut saya sego gono tidak ada tandingannya.

Sego gono bak mesin waktu yang bisa membawa saya pada indahnya kenangan masa kecil. Dulu (entah sekarang apakah masih ada), di kampung saya ada suatu waktu dimana warga bekerja bakti membersihkan sebuah sumber mata air yang namanya Rowali. Semua keluarga secara berkelompok diwajibkan membawa satu nampan sego gono, dan makanan itu disantap bersama usai kerja bakti. Sego gono itu dihamparkan dalam pelepah daun pisang yang dijajarkan memanjang. Dan orang-orang saling berhadapan, duduk serta makan bersama. Wuihh nikmatnya !

Dalam syukuran atau bancakan wetonan, maka saya dan teman-teman di kampung akan diundang secara dadakan ke rumah yang punya acara. Kami dikumpulkan dalam sebuah lingkaran, dengan sebuah nampan sego gono ditengahnya. Harum aroma nasinya cukup membuat kami tidak kuasa menahan air liur. Sementara itu potongan telur pindang yang diiris super tipis ditata melingkari sekeliling pinggan membuat mata kami tak lepas memelototi terus menerus. Potongan telurnya itu asli super tipis, mungkin satu butir telur itu dipotong menjadi sepuluh atau dua belas potong. Jaman dulu telur itu item extra mewah untuk sebuah bancakan anak-anak kampung. He he he

Setelah komat-kamit baca doa, dan hitungan mundur dari angka lima dimulai, maka segeralah tangan-tangan kami menyerbu bancakan. Momen ini boleh dikata ajang unjuk kekuasaan antara anak yang besar kepada anak yang kecil. Bayangkan begitu hitungan selesai, seorang anak yang paling besar dan waktu itu dikenal paling jagoan, langsung malarik semua irisan telur yang ada, dan mengumpulkannya disisi depannya. Sementara tangan kiri siaga menjaga tumpukan telur itu, tangan kanannya dengan semangat menyuap nasi dengan lahap. Sementara nasib saya? Boro-boro bisa mengambil telur, untuk mengambil sejumput nasi saya harus kewalahan diantara himpitan teman-teman yang lain. Baru menjelang akhir, baru saya bisa leluasa makan, itupun yang tersisa tinggal remah-remah nasi. Nasib…nasib.

*note : tulisan lama sekitar tahun 2009 yang pernah dimuat di notes Facebook. Foto dan masakan karya sendiri.
Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *