REVIEW : MURDER ON THE ORIENT EXPRESS

Sebagai penggemar cerita – cerita klasik Agatha Christe, film “Murder On The Orient Express”  sudah saya tunggu kehadirannya. Dan saya sengaja tidak menonton trailer ataupun membaca berita apapun seputar film ini dengan harapan memperoleh kejutan saat menontonnya.

Film dibuka dengan sosok Hercule Poirot yang alamak ternyata jauh dari gambaran imajinasi saya kala membaca novel Agatha Christie. Yang saya inget, Poirot itu kepalanya bulat telur, dengan kumisnya yang khas, penampilannya super rapi dan selalu mengandalkan sel-sel kelabu di kepalanya untuk memecahkan misteri.

Kecuali kumisnya yang ‘mengganggu’,  all are fine. Kenneth Branagh selaku aktor sekaligus sutradara film ini membawa citra Poirot yang lebih dandy, flamboyan, modern. Suka dengan bahasa Inggris beraksen Eropa yang ia ucapkan. Sounds sexy. Film dibuka dengan seting di Jerusalem dimana Poirot berhasil memecahkan misteri pencurian benda berharga. Penonton tergelak dengan aksi Poirot yang mengidap sindrom obssesive compulsive disorder, yang menginginkan segala hal harus balance, termasuk ukuran telur rebus sarapannya, atau risih melihat dasi orang lain yang tidak terpasang rapi.

Singkat cerita Poirot harus pulang ke London dengan naik kereta dari Istambul. Di sinilah konflik dimulai. Poirot yang niatnya mau bersantai menikmati kereta mewah Orient Express sembari menikmati bacaan buku Charles Dickens, mau tidak mau harus mengusut pembunuhan salah satu penumpang kereta yaitu mafia dan penjahat ulung Ratchett alias John Cassetti. Cerita bergulir dengan bukti-bukti yang ada, dan perlahan Poirot menyingkap sisi lain semua orang yang ada di dalam kereta itu, dimana semua punya potensi menjadi si pembunuh.

Film ini dikemas dengan gaya klasik, sinematografi yang indah, seting yang cakep dan baju-baju necis khas tahun 30-an. Daaan yang paling juara adalah deretan aktor dan aktris kawakan sebagai bintangnya. Sebut saja Judi Dench, Johnny Depp, Michelle Pfeiffer, Penelope Cruz, Wilem Dafoe, hingga  artis muda Daisy Ridley. Ini bisa disebut sebagai reuni antara bintang film kawakan Amerika dan Inggris. Dari semua bintang, Judi Dench memang kelihatan menonjol dan artis senior yang disegani. Aktingnya sebagai Princess Dragomiroff sangat mengesankan. Dalam sebuah footage promo yang saya lihat, ada pengakuan artis-artis bahwa mereka kaget dan canggung saat harus syuting bareng dengan Judi Dench. Michelle Pfeiffer yang sudah senior pun sampai menitikkan air mata ketika bertemu pertama kali dengan Judi Dench. Demikian juga dengan Johnny Depp yang mengaku sangat memuja aktris gaek asal Inggris itu. Film ini saya prediksi meraih banyak penghargaan Oscar, salah satunya bisa jadi Best Costum Design. 

Ada penonton yang bosan dan ketiduran.

Yang saya heran dari semua penonton di studio, ada beberapa yang tertidur pulas, mungkin mereka dilanda kebosanan. Jika tidak tahu gaya cerita Agatha Christie, orang awam mungkin mengira Film Murder On The Orient Express itu semacam film action yang sarat dengan aksi dar der dor. Ada juga yang punya harapan bahwa ini film ini akan mirip Sherlock Holmes, karena sama-sama tokoh utamanya seorang detektif. Dialog-dialog panjang, dengan keterangan yang padat, boleh jadi akan membingungkan dan membosankan buat sebagian orang. Di akhir film, alih-alih mendapatkan klimaks yang juegerr, penonton malah diajak untuk berkontemplasi dengan monolog panjang dari Poirot. Jadi yang belum menonton, singkirkan ekspetasi bahwa ini adalah film action.

Buat saya, film ini pas, menghibur. Film adaptasi yang bagus dari karya Agatha Christie. Definitely my kind of movie !

Saya berikan 4,5 bintang (dari 5 bintang) untuk film ini.

Tonton Trailernya :

 

Share this :

2 comments

  1. Mbakkkk sunnn, gue cuma berani nonton trailernya, kalo gue baca takut spoiler jadi tar menganggu opini pribadi gue wkwkwkw. tadi awal paragraf sama akhir aja, keceeee daahh. Btw mbak, blognya rapi bangeetttt, kerenn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *