REVIEW : Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Apa jadinya jika Marsha Timothy mendadak menjadi pembunuh gara-gara sop ayam masakannya ?

Adalah Marlina, seorang perempuan Sumba yang tinggal sendirian di rumah di tengah padang savana. Anaknya baru meninggal. Baru selesai acara penguburan anaknya, dan dia masih terlilit hutang acara penguburan, suaminya menyusul meninggal. Keterbatasan uang menyebabkan jasad suaminya masih disimpan di dalam rumah.

Suatu hari kawanan perampok datang menyatroni rumahnya. Mereka membawa hewan ternak dan mengancam untuk memperkosa Marlina. Seorang diri dalam ketakutan, Marlina harus menghadapi semuanya. Singkat cerita, usaha dalam menyelematkan diri membuat  Marlina berstatus menjadi seorang pembunuh. Tidak tanggung-tanggung dalam semalam dia sudah menghabisi lima begundal perampok itu. Di situlah perjalanan Marlina dimulai. Film berdurasi 90 menit itu dibagi dalam empat babak.

Film garapan sutradara Mouly Surya dan dibintangi Marsha Timothy ini sangat kental unsur feminisme. Bagaimana perempuan harus bergulat dan bertahan hidup dalam budaya patriarki yang masih kental. Marlina sebagai seorang janda, otomatis termarginalkan dalam lingkungan sosialnya, tanpa ada jaring pengaman yang bisa melindunginya dari mara bahaya. Satu-satunya cara bertahan adalah dengan berdiri tegak sendirian dan melawan. Sementara kawannya, seorang perempuan Sumba yang lain, meski berstatus istri, tidak menjamin mendapat kehidupan yang lebih baik. Istri ibarat barang yang bisa diperlakukan semaunya oleh suami. Dalam budayanya, hidup tidak sekedar mencukupi kebutuhan perut, tetapi juga ongkos –ongkos sosial seperti urusan upacara kelahiran, perkawinan dan kematian yang banyak menyita harta.

Di film ini kita dimanjakan dengan alam Sumba yang amboi eloknya. Budaya Sumba pun dieksplorasi dengan baik. Lemparan guyonan satir pun menjadi bumbu yang sesekali membuat penonton tergelak, sesaat melupakan kelamnya cerita film ini. Sebagai film dengan gaya arthouse, saya rasa film ini mampu dihadirkan dengan menarik, berkat plot yang membuat penonton betah untuk mengikutinya hingga akhir. Meski terkait dengan plot, terkesan linear, sehingga tidak ada unsur kejutan yang membuat greget. Tapi overall film ini bagus, dan patut diacungin jempol karena sempat ditayangkan di Festival Film Cannes 2017. Bangga dengan film Indonesia yang tergarap dengan baik.

CATATAN :

Buat yang mau nonton film ini, pastikan tidak membawa anak-anak. Minimal 17 tahun deh. Ada adegan perkosaan, pembunuhan, juga strong graphic violence.

TONTON TRAILERNYA DI SINI : 

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *