POSESIF : FILM CINTA REMAJA YANG PATUT DITONTON OLEH PARA ORANG TUA

Di tengah menjamurnya film bergenre horror di bulan Oktober – November ini, hadir film berjudul Posesif. Sekilas melihat poster filmnya sudah terbayang ini adalah film drama cinta-cintaan anak putih abu-abu. Not my cup of tea, sebenarnya. Tetapi setelah melihat trailernya, jadi penasaran karena ini film ini tidak sekedar menyajikan romance drama.

Berkisah tentang Lala (Putri Marino), seorang atlit loncat indah yang duduk di kelas 3 SMU, dan  menjalin percintaan dengan anak baru, pindahan sekolah lain, bernama Yudhis (Adipati Dolken). Awalnya hubungan cinta mereka berlangsung normal layaknya cinta khas remaja milenial seperti jalan bareng, upload foto di instagram, snapchat-an. Kemudian cerita berkembang semakin rumit ketika Yudhis menunjukkan sifat posesif terhadap Lala. Alur yang pelan namun pasti, penonton masuk dalam lapis demi lapis kerumitan hidup manusia. Hubungan cinta toxic antara Lala dan Yudhis inilah yang menjadi perekat film ini secara keseluruhan. Aroma suspense terasa ketika konflik demi konflik terjadi. Hampir tidak ada jeda buat saya selaku penonton untuk diserang kebosanan. Kita bisa melihat bagaimana seorang posesif punya daya rusak. Mulai dari stalking social media pasangan, bersikap protektif dengan memantau setiap gerak gerik pasangan, hingga kekerasan verbal dan parahnya sampai kekerasan fisik.

Film ini menjadi potret kelam bagaimana KDP (Kekerasan Dalam Pacaran) yang marak terjadi saat ini. Banyak remaja ketika menjalin hubungan tidak punya kesadaran tentang seperti apa sih hubungan sehat itu seharusnya. Mereka bersikap permisif ketika sang pacar mulai melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Mungkin banyak kalangan yang berpikir bahwa love is supposed to be painful, dan meromantisir sikap sikap abusive pasangannnya.

Latar belakang KDP dalam kisah cinta Lala dan Yudhis ternyata tidak terjadi begitu saja. Lala dan Yudhis yang kebetulan dibesarkan oleh orang tua single parent ternyata masing-masing menyimpan problema sendiri. Ayah Lala sebagai pelatih atlet loncat indah terobsesi agar Lala bisa menjadi juara, dan gagap menghadapi masa puber anak gadisnya. Sementara Yudhis dibesarkan oleh seorang ibu yang abusive, di mana kekerasan demi kekerasan menjadi hal biasa dan menjadikan Yudhis pribadi yang abusive juga. Jadi terbayang bagaimana siklus kekerasan itu berlangsung tanpa tahu bagaimana memutus mata rantai kekerasan tersebut.

Salut kepada semua team di film ini yang melakukan treatment dengan baik. Screenplay yang kuat, pemilihan casting yang oke dari pemeran utama hingga pemeran pendukung, penyutradaraan yang tidak kalah ok. Buat info saja, awal saya tertarik menonton film ini karena Putri Marino. Akting gadis ini sebagai model video klip Silver Rain Rendy Pandugo sangat natural dan loveable. Dan ternyata di film Posesif, akting Putri memuaskan, padahal ini adalah debut filmnya. Tak heran dia mendapatkan nominasi FFI untuk kategori “Pemeran Wanita Terbaik.”

Adipati Dolken tampil pas membawakan karakter Yudhis, dan menariknya chemistry yang terjalin antara Lala dan Yudhis tercipta kuat, dan tertransfer energinya kepada penonton. Karakter-karakter pendukung lain dalam film ini juga ditampikan dengan pas, sesuai porsinya. Salah satunya adalah Yayu Unru, seorang aktor kawakan yang berperan sebagai ayah Lala.

Tanpa setting glamour seperti jamaknya film-film Indonesia yang mengambil lokasi di luar negeri sebagai jualannya,  film Posesif ini justru menunjukkan daya pikatnya lewat lokasi lokal di seputar Bandung dan Jakarta. Galeri Nyoman Nuarta  – NuArt Sculpture Park di Bandung, misalnya,  menjadi lokasi unik dan tidak mainstream untuk anak-anak remaja.

Sebagai penonton dewasa di tengah penonton kids jaman now, saya melihat film ini dalam perspektif yang lebih luas. Film ini relate pada semua kalangan, tidak hanya anak remaja. Sebagai orang tua yang saat ini mempunyai anak remaja, saya bisa merasakan bagaimana gagapnya para orang tua yang sedang menghadapi masa pubertas anak remajanya. Bagaimana masa pra remaja / remaja yang rentan dan rapuh menjalani masa yang krusial dalam pembentukan karakter pribadinya, dan bagaimana pola asuh / relasi orang tua dan anak menjadi hal fundamental dalam menghantarkan anak-anak pada gerbang kedewasaan. Film ini reflektif, membawa banyak hal yang dipikirkan selepas keluar dari bioskop.

Pilhan soundtracknya film ini beragam, melewati lintas generasi. Dari lagu lawas Sheila On 7 (Dan), yang hits seperti lagunya Dipha Barus bersama Kallula ( No One Can Stop Us), hingga lagu-lagu asyik dari deretan band indie  Banda Neira,  Gardika Gigih,  Matter Halo feat Nadin, Afternoon Talk, Pagi Tadi.

Film ini diproduksi oleh Palari Films sebagai debut film, dengan produser Muhammad Zaidy (Athirah) dan Meiske Taurisia (Postcards from the Zoo bersama Edwin, 2012) . Skenarionya ditulis oleh Gina S. Noer (Ayat Ayat Cinta, Habibie Ainun). Edwin, sang sutradara sudah berpengalaman di berbagai festival film internasional dengan karya-karyanya Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), Postcards from the Zoo (2012), dan A Very Boring Conversation (2006).

Posesif is a very  well-crafted film. It deserves so much more appreciation. Mestinya banyak studio menayangkan film ini. Direkomendasikan untuk ditonton bareng antara para orang tua dan anak-anak remajanya. Syukur-syukur menjadi pembuka jalan ruang dialog antara orang tua dan anak.

Photo credit : Palari Films doc

 

Share this :

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *